Bantu Lulus Ujian SIM, Sudah Di-Download 8.931 Orang

273
KREATIF: AKP Andhika Wiratama menunjukkan aplikasi Game Petualangan Baseta dari ponselnya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF: AKP Andhika Wiratama menunjukkan aplikasi Game Petualangan Baseta dari ponselnya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kreativitas AKP Andhika Wiratama patut diacungi jempol. Kasat Lantas Polres Jepara ini berhasil menciptakan game petualangan pertama di Indonesia yang membantu masyarakat agar lulus ujian Surat Izin Mengemudi (SIM). Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PERSOALAN ribetnya proses ujian SIM kerap kali dikeluhkan warga. Sebab, banyak orang gagal setelah berkali-kali mengikuti ujian SIM. Pertanyaan-pertanyaan soal pengetahuan berlalu lintas sering tak terduga. Efek buruk yang kemudian muncul adalah adanya fenomena maraknya praktik pungli (pungutan liar) pembuatan SIM.

Prosedur yang seharusnya dilewati oleh pemohon SIM, diterobos dengan jalur singkat. Meski sudah berusaha diberantas, namun kebiasaan buruk itu masih saja terjadi. Atas fenomena tersebut, AKP Andhika Wiratama berusaha membuat terobosan baru dengan memprakarsai pembuatan Game Petualangan Baseta.

”Ini game edukasi yang membantu masyarakat agar lulus ujian SIM,” kata Andhika Wiratama saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Mapolda Jateng, Kamis (28/5).

Dijelaskan, Game Petualangan Baseta bisa di-download melalui internet maupun melalui Google Play Store. Bahkan baru dua minggu di-launching, Game Petualangan Baseta telah di-download 8.931 orang. ”Wah, sambutan masyarakat luar biasa,” katanya bangga.

Diterangkan Andhika, melalui game tersebut, masyarakat bisa belajar sambil bermain secara menyenangkan. Sedangkan materi-materi yang ada di dalam game tersebut memuat tutorial ujian SIM. Di antaranya, panduan dan soal-soal teori ujian SIM. Setelah itu, pengguna game bisa berpetualangan sesuai dengan panduan game tersebut.

”Di dalam Game Petualangan Baseta diberikan pilihan dua jenis kendaraan, yakni motor dan mobil,” bebernya.

Pemain game akan diminta untuk mengendarai salah satu kendaraan tersebut untuk berpetualang menyusuri rute jalan yang telah ditentukan. Saat berkendara, game tersebut menguji ketangkasan bagi pengendara tersebut. Karena akan menemukan berbagai marka jalan, jalan berlubang, pengguna jalan lain, hingga pos polisi di pinggir jalan.
”Sedikitnya ada lima stage. Setiap stage ada lima pertanyaan. Jika benar saat menjawab, maka poin bertambah. Sebaliknya jika salah menjawab, maka poin berkurang,” jelasnya.

Lebih lanjut diterangkan, jumlah skor yang diraih di akhir setiap level akan menentukan berapa banyak bintang yang diperoleh. ”Adapun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pak Baseta bukanlah pertanyaan sembarangan. Melainkan telah disesuaikan dengan peraturan Korps Lantas Mabes Polri yang menjadi standar ujian permohonan SIM nasional,” katanya.

Baseta adalah nama tokoh polisi yang dijadikan ikon keselamatan di dalam game tersebut. Baseta merupakan akronim dari Badut Keselamatan Berlalu Lintas.

Ditanya dari mana bisa muncul ide dibuatnya Game Petualangan Baseta? Andhika mengatakan, ide tersebut muncul setelah melihat kegelisahan para pemohon SIM yang gagal dalam ujian teori.

”Kami menciptakan sebuah game yang tidak hanya menghibur para pemain, tapi juga memberikan berbagai pengetahuan tentang marka jalan dan cara berkendara dengan baik dan benar. Sekaligus melakukan sosialisasi terkait prosedur pembuatan SIM. Game ini juga melakukan pendidikan tentang disiplin berlalu lintas,” terang Andhika.

Jika pemain game berhasil menjawab pertanyaan di Game Petualangan Baseta dengan tepat, maka jawaban tersebut bisa digunakan saat menjawab pertanyaan ujian teori permohonan SIM. Mekanisme permainan di dalam game juga didesain dengan panduan tersebut.

”Kami melihat, intensitas masyarakat dalam menggunakan akses online atau internet sangat tinggi. Ini jarang menjadi perhatian. Kami melihat, dengan adanya game tersebut banyak sisi manfaat,” kata polisi inovatif ini.

Tak heran, kreativitas Game Petualangan Baseta yang diciptakan oleh anggota polisi ini akhirnya menyabet juara I dalam Final Lomba Pelayanan Inovasi Lalu Lintas (LOMPIA) antar Polres se-Jawa Tengah di Gedung Borobudur Polda Jateng, Kamis (28/5) kemarin. ”Saya membuat game ini sejak 6 bulan lalu, tepatnya bulan Desember 2014,” akunya.

Tidak hanya itu, tim Baseta Polres Jepara juga menggandeng sebanyak Polcil (Polisi Cilik) yang merupakan siswa SDN 1 Panggang Jepara. ”Ada 22 Polcil. Ini anak binaan kami, siswa SD yang menjadi pelopor tertib berlalu lintas,” imbuh Andhika.

Salah satu siswa SDN 1 Panggang Jepara, Muhammad Ardian Saputra, mengaku, senang dan bangga bisa mewakili Polres Jepara. ”Saya bangga menjadi perwakilan Jepara. Ini pengalaman yang menarik. Kami terpilih karena menjuarai Polcil di Jepara pada 22 Desember 2014 lalu. Di sekolah kami emang ada ekskul Polcil,” kata siswa kelas 5 ini.

Guru SDN 1 Panggang Jepara, Tri Widiastuti selaku pendamping para siswa mengatakan, pihaknya melakukan pendidikan tentang lalu lintas di sekolah. ”Ada kegiatan Ekstrakurikuler Polisi Cilik di sekolah kami. Seminggu latihan dua kali secara rutin,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, tujuan dibukanya ekskul Polcil di sekolah adalah untuk melakukan pendidikan tentang lalu lintas sejak dini. Siswa diajarkan soal pengetahuan lalu lintas agar melatih budaya disiplin berlalu lintas. ”Kesulitannya ya karena mendidik anak kecil mereka sering bercanda, guyon, sulit diatur, ada yang mengeluh sakit dan macam-macam, namanya juga anak kecil,” katanya sambil tersenyum.

Namun demikian, lanjutnya, kegiatan seperti ini menjadi motivasi untuk bersemangat karena mewakili nama Kabupaten Jepara. ”Semuanya jadi kompak dan bersemangat. Apalagi ini menjadi juara I lagi, wah senang sekali,” ucapnya. (*/aro/ce1)