Semarang Belum Siap Unas CBT

146

SEMARANG – Pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) model Computer Based Test (CBT) tingkat SMA/SMK/MA di Kota Semarang mendapat kritikan pedas dari Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan Jateng.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Kepala ORI Jateng, Muhammad Zaid mengatakan pelaksanaan unas CBT masih menemui banyak kendala. Menurutnya, untuk saat ini dan ke depan, Kota Semarang belum siap melakukan unas CBT.

”Menurut catatan kami, sebanyak 11 sekolah di Jateng mendapat permasalahan dari pra maupun pelaksanaan unas CBT. Permasalahannya berbagai macam. Mulai dari persiapan yang terlalu cepat hingga beberapa sekolah memang belum memiliki infrastruktur yang memadai,” ujar Zaid, Rabu (27/5).

Salah satunya yaitu Kota Semarang. Pada tahun ini pelaksanaan unas CBT tingkat SMA/SMK sederajat hanya dilakukan di satu sekolah saja yaitu di SMK Texmaco. Sekolah yang berada di Jalan Raya Semarang Kendal ini, dikatakan Zaid pihak sekolah mengeluhkan waktu persiapan yang terlalu cepat, karena keputusan dinas pendidikan setempat dinilai lamban memutuskan diizinkan atau tidaknya unas CBT.

”Tempat unas yang digunakan kurang memadai, hanya menggunakan ruang laboratorium komputer dan jarak antarsiswa berdekatan. Pengawasnya sendiri dari guru SMK Texmaco dengan alasan karena Kota Madya Semarang hanya satu-satunya yang unas dengan model CBT. Peserta unas diwajibkan masuk ruangan 30 menit sebelum unas CBT dimulai. Padahal secara umum POS unas mengatur masuk ruangan 15 menit sebelum unas,” lanjutnya.

Selain itu, kata Zaid, tahap pengelolaan dan pengumuman hasil ujian juga mengalami banyak kendala. Pasalnya pada proses uploading hasil unas CBT tidak ada kendala, hanya pada pengiriman, daftar hadir, berita acara dan pakta integritas mengalami loading yang lama. Hasil unas CBT sendiri seharusnya lebih cepat didapat, hanya tetap sama pengumumannya dengan menggunakan Paper Based Test (PBT).

”Sekolah lain yang mencoba untuk CBT juga mengalami masalah. Di SMK N 3 Semarang, sebelum sekolah itu akan melakukan unas CBT dan sudah dilakukan verifikasi puspendik. Alasan mereka mundur adalah karena waktu yang terbatas untuk menyiapkan tempat dan belum memiliki genset yang memadai. Sebenarnya sarana dan prasarana jumlah komputer sudah memadai,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu tim monitoring ORI Jateng, Anshori menambahkan, sekolah lain seperti SMK N 5 Semarang menurut catatan pihaknya, juga mengeluh kerepotan dalam penyiapan sarana dan prasarana unas CBT. Kesulitan men-download software aplikasi dari server pusat selama dua hari juga belum selesai. Selain itu, dikatakan Zaid, sekolah tersebut merasa persiapan unas CBT dinilai terlalu cepat.

”SMKN 5 Semarang diinduki lima sekolah yang tidak bisa menyelenggarakan unas CBT yaitu SMK Palapa Semarang yang berjumlah 20 siswa, SMK YPE berjumlah 18 siswa. SMK Nusa Bhakti sebanyak 22 siswa, SMK Hisbabuana sebanyak 19 siswa, SMK N 1 Karangawen sebanyak 37 siswa. Selain itu kelima sekolah tersebut memiliki akreditasi yang berbeda tidak seragam yaitu A dan B,” kata Anshori.

Ia juga menambahkan, SMK N 5 Semarang juga belum memiliki genset yang belum memadai. Selain itu juga belum dapat memenuhi tata letak lay out komputer yang tidak sesuai dengan POS unas yang telah ditentukan. SMK N 5 Semarang mengundurkan diri dalam pelaksanaan unas CBT pada saat dua minggu sebelum pelaksanaan.

Seperti yang telah dicanangkan Dinas Pendidikan Kota Semarang, bahwa tahun depan sekolah setingkat SMA/SMK dan SMP akan melakukan unas model CBT. Menurut Anshori, keputusan tersebut terlalu bersifat emosional tanpa melihat realita di lapangan. (ewb/zal/ce1)