DICINTAI WARGA: Bupati Kendal Widya Kandi Susanti menyalami warga di sela peresmian proyek PLPBK di Kecamatan Weleri, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DICINTAI WARGA: Bupati Kendal Widya Kandi Susanti menyalami warga di sela peresmian proyek PLPBK di Kecamatan Weleri, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Bupati Kendal Widya Kandi Susanti meresmikan tiga desa wisata hasil program penataan lingkungan permukiman berbasis komunitas (PLPBK). Tiga desa wisata tersebut adalah Wisata Desa Sambongsari (WDS), Desa Agrobisnis Pucuksari, dan Desa Kampung Hijau Produktif Karanganom. Ketiga Desa di Kecamatan Weleri itu dinilai sukses dalam menjalankan program PLPBK. Widya optimistis, program tersebut akan mampu memberdayakan masyarakat sekitar. Sehingga mampu mengangkat ekonomi warga desa setempat.

WDS menawarkan wisata alam, mulai dari taman, outbond, pemancingan dan sejumlah pemandangan alam yang kini masih mulai dikembangkan. Dengan adanya WDS ini, warga sekitar tidak perlu lagi berwisata ke tempat yang jauh. Cukup di WDS ini, masyarakat bisa mendapatkan hiburan dan refreshing.

”Pendapatannya bisa dimasukkan sebagai kas desa untuk pembangunan desa. Sebagian lainnya untuk pengelolaan, dan kembali ke masing-masing warga untuk peningkatan ekonomi masyarakat desa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (27/5).

Desa agrobisnis di Desa Pucuksari mengembangkan konsep peternakan ikan lele dan ikan nila. Desa ini, menurutnya, tepat lantaran letak kondisi geografis yang tak kesulitan mendapatkan air, dan banyak lahan untuk dijadikan kolam ikan.

”Hasil panen bisa dikonsumsi sendiri, sehingga kebutuhan nutrisi dalam tubuh terpenuhi. Terutama untuk anak-anak dan ibu hamil serta menyusui, menjadi hal penting untuk pemenuhan kebutuhan gizinya. Sehingga nanti ke depan tercipta generasi yang cerdas, sehat, dan siap berkompetisi untuk memajukan daerah Kendal,” tandasnya.

Selain itu, hasil panen ikan dapat meningkatakan ekonomi rakyat. Sehingga masyarkat bisa mandiri dan mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran di desa setempat. ”Ikan bisa diolah menjadi apa saja, mulai presto, keripik, dan bahan makanan lainnya. Jadi, potensinya ke depan bisa menjadi sentra penghasil ikan tawar di Kendal,” katanya.

Begitu pun dengan konsep kampung hijau produktif di Desa Karanganom. Desa tersebut membuat konsep hijau dengan penanaman pohon-pohon buah berupa jambu citra dan pepaya calivornia.

”Inilah sebenarnya konsep perda SUSU (Sak Uwong Sak Uwit) yang saya canangkan. Tidak perlu muluk-muluk, dengan adanya tanaman buah, lahan akan menjadi produktif sekaligus hijau. Hasilnya juga bisa dipasarkan ke berbagai daerah,” ujarnya.

Kepala Desa Karanganom, Tuju Triono, mengaku senang dengan kedatangan bupati yang telah memberikan semangat bagi warganya untuk giat menanam. ”Kami berharap, desa kami menjadi desa percontohan dari pelaksanaan perda SUSU,” katanya. (bud/aro/ce1)