BATU MAHAL: Ikhwan Ubaidilah dan batu koleksi di taman rumahnya. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BATU MAHAL: Ikhwan Ubaidilah dan batu koleksi di taman rumahnya. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Demam batu akik melanda semua kalangan. Namun apa yang dilakukan Ikhwan Ubaidilah ini tergolong unik. Dia bukannya mengoleksi batu akik, namun justru mengoleksi hampir 36 ton batu yang terdiri atas 2 ribu jenis. Seperti apa?

NUR WAHIDI, Kalicari

BATU akik jenis bacan, black onyx, black oval, klawing, dan lainnya biasanya dipajang di almari etalase, atau dibuat cincin atau liontin yang dipakai sebagai perhiasan. Namun bagi Ikhwan Ubaidilah, batu-batu bernilai miliaran rupiah tersebut justru menjadi hiasan taman rumahnya di Perumahan Griya Raharja No 26 A, Kalicari Semarang. Bahkan jumlahnya tidak tanggung-tanggung mencapai ribuan jenis. Bahan batu akik yang dimiliki Ikhwan masih dalam bentuk bongkahan. Tapi keindahan batu-batu tersebut tidak kalah dari batu akik yang sudah dipoles.

Saat Jawa Pos Radar Semarang masuk pintu gerbang rumah Ikhwan, langsung disambut puluhan bongkahan batu besar yang sudah tertulis nama jenisnya, serta ukuran beratnya. Ribuan jenis batu itu tertata rapi di taman, termasuk di dinding kolam. Batu-batu tersebut selama ini kerap diolah warga menjadi batu akik. Namun oleh Ikhwan, dibiarkan tergeletak di taman rumahnya yang rindang tersebut.
”Untuk jumlahnya kurang lebih 2 ribu jenis batu yang telah tertata rapi di samping kolam ikan,” ucapnya.

Ikhwan mengaku, mengoleksi batu-batu itu sejak 2003 lalu. Ia kerap mendatangkan bongkahan batu dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya, bukan sebagai perhiasan, namun untuk memperindah taman rumahnya. ”Sejak 2003 saya sudah ngumpulin batu, jauh sebelum batu nusantara itu booming. Ya, hanya buat pajangan di taman, kolam, dan meja,” katanya.

Ikhwan sendiri tak menyadari jika akhirnya batu-batu di taman rumahnya itu sekarang bisa diolah sebagai batu akik yang bernilai tinggi. Ia mengetahui setelah ada temannya memberi tahu. ”Saya juga tidak sadar, ternyata koleksi batu saya bisa sebanyak ini, kalau ditotal bisa 36 ton,” akunya.

Meski sudah mengetahui batu-batu koleksinya bisa dijadikan akik, ternyata tidak membuat Ikhwan berubah pikiran. Ia tetap menjadikan batu-batu tersebut sebagai hiasan taman.

”Batu-batu itu tetap saya jadikan hiasan taman. Kalau dilihat ada polanya seperti hewan, saya ukir. Bahkan ada yang polanya mirip macan, dan batu pancawarna juga,” katanya.

Ikhwan mengaku, saat mendatangkan batu-batu tersebut pada 2003, ia hanya membayar Rp 900 ribu per truk ditambah ongkos kirim sesuai daerah asal batu.

”Sekarang hitungannya tidak lagi satu truk, tetapi per kilo. Sekilonya tidak boleh Rp 25 ribu,” ujarnya.
Salah seorang karyawan Ikhwan, Deni Sugiarto, mengaku dalam membentuk batu nusantara itu memang tidak mudah tetapi harus teliti dengan melihat ruas atau garis. ”Soalnya kalau tidak bisa melihat ruas atau garisnya, batu akan terlihat jelek. Untuk menampakkan ruasnya, membutuhkan kegigihan karena kerasnya batu itu,” akunya. (*/aro/ce1)
JS: Dulu Satu Truk Batu Hanya Dibeli Rp 900 Ribu