EDUKASI MASYARAKAT : Moelyono Soesilo konsisten mengembangkan dunia perkopian di Indonesia. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EDUKASI MASYARAKAT : Moelyono Soesilo konsisten mengembangkan dunia perkopian di Indonesia. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dua puluh tahun lebih menggeluti dunia kopi, beragam pengalaman menarik telah dirasakan oleh Moelyono Soesilo. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

AROMA khas seduhan kopi Papua menggoda indra penciuman saat memasuki e-coffee di daerah Sompok. Dan ternyata, tak hanya aromanya yang memikat, rasanya pun tak kalah nikmat. Sembari menikmati sajian kopi Indonesia, Moelyono Soesilo menerangkan asal-usul kopi di dunia beserta perkembangannya. Sungguh sangat menarik.

“Sesekali saya dan rekan-rekan yang memiliki keahlian di bidang perkopian datang kesini untuk mengisi kelas. Mulai dari pengetahuan seputar kopi hingga bagaimana meracik kopi yang baik,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, beberapa waktu lalu.

Ya, salah satu eksportir kopi ini cukup lama bergelut di bidang tersebut. Lebih dari 20 tahun. Jatuh bangun makan asam garam di bidang ini, boleh dibilang sudah kenyang dirasakan. Karena itulah, pria kelahiran Semarang ini tak ragu berbagi pengetahuan maupun pengalamannya kepada sesama peminat kopi.

“Awal mula nyemplung di bidang ini, sebetulnya kecelakaan alias tidak disengaja. Saya kuliah jurusan Akuntansi. Lulus kemudian membantu paman saya yang punya perusahaan kopi, pegang pembukuannya,” ujar Moelyono.

Selama mengurusi pembukuan, pria kelahiran 10 Februari 1971 ini terus mengamati perkembangan industri komoditas tersebut. Khususnya kemungkinan untuk membuka cabang-cabang baru, sehingga proses pengirimannya lebih efisien.

“Tiap akan ekspor kopi dari Jawa Tengah dikirim dulu ke Surabaya. Saya piker, kok kurang efisien, kalau bisa langsung dari Semarang kan lebih hemat ongkos,” ujarnya.

Dari situ ia lantas mulai merintis perusahaan ekspor kopi di Semarang. Tahun 1995 mulai resmi mengekspor kopi melalui perusahaannya, PT Taman Delta. Dengan ekspor pertama ke Singapura sebanyak 3 kontainer kopi.

Konsisten di bidang ini, Moelyono terus berupaya melebarkan pasar. Jepang menjadi sasaran berikutnya. Memasuki tahun 2000-an, pasar di Jepang mulai terbuka, ekspor ke negeri Matahari Terbit tersebut pun meningkat.

Namun begitu, menembus pasar Asia, ternyata butuh perjuangan. Terlebih, saat itu kopi belum se-booming saat ini. Otodidak dan mencari informasi ke ahli-ahli kopi dunia pun dilaluinya.

“Wah, tahun segitu di Indonesia masih jarang yang namanya sekolah barista dan yang berbau-bau kopi. Padahal, Jepang punya standar kualitas dan rasa yang tinggi. Karena itu, saya harus banyak belajar,” ujarnya.

Berkat pengalaman serta pengetahuannya akan seluk beluk kopi, Moelyono kerap diminta menjadi pembicara di sejumlah daerah bahkan negara. Namun demikian, alumnus Universitas Atma Jaya Jogjakarta ini tak ingin ketinggalan mendorong kemajuan perkembangan kopi di Indonesia.

Bersama dengan sejumlah pihak terkait, ia mengedukasi para petani kopi. Terkait bagaimana merawat kopi hingga dapat menghasilkan komoditas dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik, hingga bagaimana menyikapi permasalahan-permasalahan dalam sektor ini.
“Kalau kopi dirawat dengan baik dan tepat, hasilnya akan lebih baik. Dengan demikian, kesejahteraan petani juga akan lebih baik. Pun kopi kita akan lebih dikenal oleh dunia,” ujar ayah dua putra dan seorang putri ini.

Ia juga kerap membagi ilmunya dalam kelas-kelas yang membahas dunia perkopian. Selain itu, belum lama ini, Moelyono turut terjun, menjadi salah satu pendukung di balik Film Filosofi Kopi. Harapannya, masyarakat akan lebih teredukasi akan kopi.

“Memang, efeknya tidak langsung meningkatkan permintaan kopi, tapi bertahap. Setidaknya, masyarakat lebih paham, bagaimana sih proses mulai dari perawatan tanaman kopi sampai ia menjadi minuman yang nikmat,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap, komoditas ini bisa lebih berkembang di Indonesia. Karena kopi menjadi salah satu sumber daya alam juga pemasukan yang besar bagi negeri ini.

“Kebutuhan kopi dalam negeri terus meningkat. Sayang, kalau kita harus impor. Padahal negeri kita kaya kopi. Karena itu harus terus kita kembangkan,” tandasnya. (*/ida)