Suka Berbahasa Jawa

191
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI

BAGI Fibriani Nuralya, bahasa Jawa adalah bahasa yang indah. Saat berkomunikasi, ia mengaku lebih memilih menggunakan bahasa Jawa ketimbang bahasa asing. Wanita yang akrab disapa Ayik ini tak malu jika selalu memakai bahasa Jawa setiap harinya.

Menurut dia, dengan biasa menggunakan bahasa Jawa, secara tidak langsung dirinya ikut nguri-uri budaya Jawa. ”Saya lebih suka ngomong Jawa ketimbang bahasa asing, apalagi saat ini banyak generasi muda yang tidak bisa bahasa Jawa dengan baik dan benar. Hal tersebut yang kadang membuat saya sedih,” kata wanita kelahiran Semarang, 20 Februari 1987 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ayik mencontohkan, saat ini jarang mendengar anak muda memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan mas atau mbak. Hal sepele yang mulai ditinggalkan itu tentu menimbulkan keprihatinan kita semua. ”Kalau di mal ataupun di rumah makan, pasti dipanggil kakak. Sedangkan kata mas dan mbak sudah jarang digunakan,” ucapnya prihatin.

Wanita berwajah oriental ini mengaku, suka dengan kebudayaan Jawa karena warisan dari sang ayah yang dulunya seorang dalang. Alumnus S1 Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Diponegoro (Undip) ini mengenang, saat kecil sering diajari kebudayaan Jawa, bahasa Jawa krama inggil dan masih banyak lagi. ”Dulu sering diajak nonton wayang, bahkan hingga dewasa saya masih suka nonton wayang kulit dan wayang orang di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh) setiap malam minggu. Tapi kalau remaja saat ini lebih suka nongkrong dibandingkan nonton wayang ataupun sekadar mengenal budaya tradisional,” ucap wanita blasteran Jawa dan Jepang yang saat ini menjadi Public Relations E-Plaza Semarang ini.

Di sela kesibukan kerja, wanita yang mengaku masih jomblo ini terobsesi menjadi seorang dosen. Tak heran, jika kini ia melanjutkan studi S2 jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Undip. ”Basic-nya sih suka ngomong, selain itu saya ingin menyalurkan ilmu yang saya punya ke orang lain agar lebih bermanfaat,” ujarnya.

Wanita yang hobi membaca ini, mengaku punya tiga lemari buku berukuran besar untuk menyimpan buku koleksinya yang jumlahnya ribuan. Buku yang dikoleksi tidak mengenal genre, karena menurut Ayik, setiap buku pasti memiliki informasi yang berguna, termasuk buku fiksi maupun komik. ”Kalau baca buku, sudah hobi sejak kecil, dan nggak pilih-pilih bukunya apa, yang penting asyik dan bisa menambah ilmu,” tandas wanita yang tak pernah bosan membaca buku biografi Tan Malaka ini. (den/aro/ce1)