BLOKIR JALAN : Ribuan warga dari Desa Bulu, Desa Timbang, Desa Banaran dan Desa Karangsono, Kecamatan Banyuputih, melakukan pemblokiran jalan, karena jalan rusak tidak pernah diperbaiki. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLOKIR JALAN : Ribuan warga dari Desa Bulu, Desa Timbang, Desa Banaran dan Desa Karangsono, Kecamatan Banyuputih, melakukan pemblokiran jalan, karena jalan rusak tidak pernah diperbaiki. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Ribuan warga dari empat desa di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang memblokir jalan alternatif Kecamatan Banyuputih menuju Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Senin (25/5) siang kemarin. Hal itu dilakukan lantaran jalan desa rusak sudah lebih dari lima tahun, tidak kunjung dipebaiki.

Keempat desa itu meliputi Desa Bulu, Desa Timbang, Desa Banaran dan Desa Karangsono, Kecamatan Banyuputih. Akibatnya akses jalan alternatif Banyuputih ke Limpung atau sebaliknya macet total.

Ribuan warga melakukan pemblokiran jalan sepanjang 8 kilometer secara serentak dari arah empat desa tersebut. Batu kali, kayu, pohon pisang, diletakkan di tengah jalan alternatif tersebut.

Lebih dari 7 jam akses jalan alternatif Banyuputih ke Limpung atau sebaliknya, tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga yang terlanjur terjebak pada jalur alternatif Banyuputih ke Limpung atau sebaliknya, terpaksa memutar balik memilih jalur pantura Batang.

Aksi nekad ribuan warga dari empat desa tersebut dimulai sejak Minggu (24/5) pukul 17.00 sore kemarin, baru bisa dibubarkan pada Senin (25/5) dini hari. Setelah adanya kesepakatan antara empat kepala desa (Kades) dengan tokoh warga desa setempat.

Kades Bulu, Kecamatan Banyuputih, Mujiah, Senin (25/5) siang kemarin mengungkapkan bahwa aksi ribuan warga dari empat desa tersebut adalah puncak kemarahan warga karena Pemkab Batang, tidak pernah menindaklanjuti aspirasi dari warga empat desa, terkait jalan rusak yang ada di desanya.

Menurutnya, ratusan warga Desa Bulu, sebelumnya juga telah melakukan pemblokiran jalan desa masuk ke Kecamatan Limpung, namun Pemkab tidak pernah merespon. “Semua jalan desa yang ada di Kecamatan Banyuputih rusak. Makanya demo yang dilakukan oleh ribuan dari empat desa tersebut, berharap Pemkab Batang memberikan perhatian pada desa di Banyuputih,” ungkap Mujiah.

Supari, 57, tokoh masyarakat Desa Bulu, Kecamatan Banyuputih, menegaskan bahwa kesepakatan yang telah disetujui oleh empat kades adalah akan berunjuk rasa dengan mendatangi Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo dan Ketua DPRD Kabupaten Batang.

Menurutnya, rusaknya jalan desa yang ada di Kecamatan Banyuputih, karena tidak pernah ada perbaikan selama 5 tahun lebih yang kini diperparah oleh truk dump Galian C yang melalui jalan desa tersebut. “Kalau dalam waktu seminggu ini Bupati Yoyok tidak memberikan kepastian jalan desa kami akan diperbaiki, ribuan warga akan datang ke kantor bupati dan ketua DPRD,” tegas Supari, koordinator aksi unjuk rasa berupa pemblokiran kemarin.

Sementara itu, Sekda Kabupaten Batang, Nasikhin, menandaskan bahwa Pemkab Batang dalam tahun 2015 telah mengalokasikan perbaikan infrastruktur jalan dan irigasi sebesar Rp 71 miliar dari APBD. Saat ini sudah pada proses lelang dan awal Juni 2015, baru dimulai pekerjaan perbaikan.

“Kami minta warga Desa Bulu, Desa Timbang, Desa Banaran dan Desa Karangsono, Kecamatan Banyuputih, untuk bersabar. Karena Pemkab sudah mengalokasikan dana untuk perbaikan infrastruktur jalan dan irigasi sebesar Rp 71 miliar, ini hanya masalah waktu saja,” tandas Nasikhin. (thd/ida)