Reptil Bisa Menjadi Sahabat Manusia

325
PENYAYANG BINATANG : Argo Ganda Gumilar, anggota Xotic Pet Pekalongan di Ponolawen Kota Pekalongan, menunjukkan reptil peliharaannya. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENYAYANG BINATANG : Argo Ganda Gumilar, anggota Xotic Pet Pekalongan di Ponolawen Kota Pekalongan, menunjukkan reptil peliharaannya. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bagi banyak orang, hewan sejenis reptil sering menjadi momok menakutkan atau bahkan menjijikkan. Namun bagi sebagian warga Pekalongan, justru menyenangkan. Kok?

BEGITU masuk ke bagian belakang rumah Argo Ganda Gumilar, salah satu anggota Xotic Pet Pekalongan di Ponolawen Kota Pekalongan, Jawa Pos Radar Semarang langsung disambut puluhan ekor reptil. Terutama jenis kadal gurun seperti Gecko Leopard, aneka jenis kura-kura, biawak dan beberapa jenis hewan lain. “Kalau reptil, saya lebih konsen di pengembangbiakan Kadal Gecko Leopard, biawak dan kura-kura. Reptil lain seperti ular dan lainnya, sudah ada teman kami yang memeliharanya,” ucap Argo di rumahnya.

Mahasiswa semester akhir ini, telah miliki 40 koleksi reptil, Kadal Gecko Leopard dan kura-kura. Bahkan, dirinya telaten melakukan pegembangbiakan. “Hasilnya bisa untuk kegiatan amal dan biaya pemeliharaan koleksi saya,” tuturnya polos.

Di Pekalongan sebenarnya banyak yang menyukai reptil, namun hanya beberapa yang berani membuka diri dan ikut komunitas. Saat ini, tercatat baru ada 25 anggota yang aktif melakukan kopi darat (kopdar) dan ikut kegiatan. “Sebenarnya sudah lama ada komunitas pecinta reptil. Sejak tahun 2008, telah terbentuk Calico. Namun bubar dan baru Oktober 2014, kami mendirikan lagi Xotic Pets Pekalongan ini,” ungkapnya.

Diceritakan dia, dari seluruh anggota komunitas, dirinya terilang memiliki koleksi reptil lumayan banyak, 40 ekor. Anggota berikutnya, Januar Pribadi koleksinya 30-an reptil, Jibriel Muafak memiliki koleksi 15 ekor. “Sebenarnya teman saya Januar, koleksinya dulu paling banyak. Namun baru-baru ini, sebagian koleksinya banyak dijual, sehingga tingal 30 ekor,” tuturnya.

Kegiatan komunitas, diakuinya, lebih melakukan misi edukasi. Di antaranya, kerap dipanggil ke sekolah-sekolah dan kampus, serta berbagai perusahaan. Biasanya, diminta menerangkan jenis reptil dan bagaimana menjinaknya jika menemukan di rumah atau di jalan. “Sebenarnya reptil bisa bersahabat dengan manusia dan menjadi penyeimbang ekosistem, jika bisa mengenal lebih dekat tentang reptil tersebut,” tuturnya.

Reptil menjadi salah satu jejaring ekosistem. Di antaranya, katanya, menjadi pengendali hama. Selama ini banyak orang cenderung over protektif terhadap beragam jenis reptil. Misalnya, saat menemukan ular, lantas dibunuh. Harusnya tidak demikian, lebih baik dibiarkan saja atau ditangkap oleh orang yang berpengalaman kemudian dilepas lagi. “Reptil juga turut membantu manusia mengendalikan hama,” bebernya panjang lebar.

Pemeliharaan reptil, menurut Argo, lebih mudah dibanding hewan mamalia. Karena tidak setiap hari makan, bisa lebih hemat. Seperti yang dia lakukan sekarang, untuk semua koleksinya sebulan cukup mengeluarkan biaya Rp 300 ribu saja. “Uang sebesar itu untuk membeli daging ayam, tikus putih, jangkrik, poor ikan untuk kura-kura dan labi-labi kecil. Bahkan hewan lain seperti ular, makannya bisa sebulan sekali,” terangnya.

Kendati begitu, ada dukanya dalam memelihara reptil. Yakni, ketika proses penjinakkan hewan, terutama reptil jenis biawak cukup sulit. “Kalau menggigit, sudah biasa, itu risiko. Tapi sedihnya, jika hewan peliharaan tiba-tiba kabur dengan menjebol kandang atau tiba-tiba mati di luar kandang,” tandasnya. (han/ida)