KAJEN-Usai mengamuk saat inspeksi mendadak (Sidak) pelaksanaan Ujian Sekolah (US) tingkat Sekolah Dasar (SD) beberapa waktu lalu, Bupati Pekalongan, Amat Antono, langsung menindaklanjutinya. Kali ini, dengan mengumpulkan seluruh Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) dan Pengawas SD Kabupaten Pekalongan.

Pertemuan tersebut mengevaluasi atas ketidakdisiplinan kepala sekolah dan guru, lingkungan sekolah (ruang kelas ujian) yang kotor serta adanya kegiatan tidak produktif bagi kepala sekolah dan guru serta siswa. “Hasil temuan itu segera dievaluasi dan ditindaklanjuti agar terjadi perubahan dan perbaikan,” ungkapnya di ruang rapat bupati, kemarin.

Menurut Antono, hal serius yang perlu ditekankan adalah peran pendidikan sebagai pintu masa depan. Terlebih pada jenjang pendidikan SD. “Ini hal yang sangat serius untuk segera diperbaiki,” tegasnya.

Sejumlah hal yang ditekankan adalah kepala sekolah dan guru tidak dibebani dengan tugas piket menjaga soal ujian yang telah menjadi tugas kepala UPT dan pengawas. “Kepala sekolah dan guru, biarkan mereka konsentrasi kepada pelaksanaan ujian,” kata dia.

Hal lain yaitu penghapusan ruang transit untuk persiapan siswa menjelang ujian dan kegiatan semacam karantina menjelang ujian. Menurut Antono, siswa yang akan menjalani ujian tidak boleh ditambahi beban yang akan membuat mereka stres. “Ruang transit atau karantina itu dihapus saja. Biarkan para siswa rileks menghadapi ujian,” terangnya.

Teguran keras juga dilayangkan kepada kepala UPT Pendidikan dan Pengawas. Antono bahkan menyimpulkan bahwa berdasarkan temuannya menunjukkan tidak berfungsinya para pengawas. “Ini menunjukkan pengawasnya tidak pernah ke lapangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Antono melakukan monitoring selama dua hari ke beberapa SD di 4 kecamatan yakni Kajen, Karanganyar, Bojong dan Sragi. Dia naik pitam lantaran melihat langsung kondisi di sejumlah sekolah yang sangat memprihatinkan. Seperti tidak adanya kepala sekolah dan pengawas, padahal pelaksanaan ujian segera dilaksanakan. Selain itu, kondisi meja penuh coretan, sudut-sudut kelas kotor, tumpukan kertas usang yang tidak terpakai di dalam ruang kelas. Bahkan hingga adanya spanduk iklan sebuah toko pakaian terpasang di dinding kelas. (hil/ida)