Petugas Tidak Tegas, Pemulung Nekat

284
AMBIL BONGKARAN : Bongkaran Pasar Batang menjadi rebutan antara pemenang lelang. Meski ada larangan, pemulung nekat mengambil besi dengan alasan harga besi beton bekas sedang membaik. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
AMBIL BONGKARAN : Bongkaran Pasar Batang menjadi rebutan antara pemenang lelang. Meski ada larangan, pemulung nekat mengambil besi dengan alasan harga besi beton bekas sedang membaik. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

Seiring telah dilelangnya bongkaran Pasar Batang dan dimenangkan peserta lelang dari Semarang dengan penawaran tertinggi Rp 151 juta, pembongkaran pun telah dilakukan. Sehingga otomatis seluruh aset bangunan Pasar Batang menjadi hak milik dari pemenang lelang. Namun tidak sedikit para pemulung dari berbagai daerah justru berebut mengais rejeki dengan mengambil besi beton bekas, yang ada di Pasar Batang.

Taufik Hidayat, Batang

Kondisi ini membuat sering terjadi kucing-kucingan, antara mandor pemenang lelang dengan pemulung. Pasar Batang seluas 1 hektare yang terdiri dari 2.100 los dan 150 kios. Sudah dua minggu terakhir dilakukan pembongkaran oleh rekanan dari Semarang yang memenangkan lelang pembongkaan senilai Rp 151 juta.

Namun seminggu setelah Pasar Batang ditinggalkan oleh pedagang, dan pindah ke Pasar Darurat di Jalan Sutomo, Desa Watusalit. Proses lelang belum dilakukan, puluhan pemulung langsung beraksi di Pasar Batang tersebut, dengan mengambil besi dan barang lainnya.

Tidak sedikit para pemulung dari berbagai daerah tersebut, yang nekat menginap di dalam Pasar Batang dan mengambil barang rongsokan, berupa besi atau kayu dan lainnya, yang dinilai berharga untuk dijual.

Tak heran jika saat Dinas Pendapatan Pengelolaan Kas Aset Daerah (DPPKAD), Kabupaten Batang, melakukan penawaran lelang Pasar Batang, dan dibuka dengan harga terendah Rp 150 juta. Dari 46 orang peserta yang mengikuti lelang, dan sebagian besar adalah rekanan dari Kabupaten Batang. Tak satu pun peserta dari warga Kabupaten Batang, yang menawar harga lelang Pasar Batang lebih dari Rp 150 juta. Karena para pemulung telah lebih dahulu, mengambil barang besi dan lainnya.

Bahkan pada saat pembongkaran dilakukan oleh pemenang lelang, para pemulung tetap melakukan pengambilan besi beton, meski di tepian bongkaran Pasar Batang. Lemahnya pengamanan dari Satpol PP, dan tidak adanya tindakan tegas. Membuat pemulung semakin nekat.

Rahmadi,56, pemulung warga Desa Ujungede, Kecamatan Comal, Kabupaten Batang, Kamis (21/5) siang kemarin, saat mengambil besi bekas di bongkaran Pasar Batang, mengungkapkan tidak ada larangan dari Satpol, atau keamanan yang lain pada pemulung. Sehingga pemulung tetap mengambil besi dan rongsokan lainnya, yang ada di Pasar Batang. “Kita biasanya berkelompok, dalam mengambil besi beton, yang tidak diambil oleh pemilik bongkaran,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, sejak tidak adanya larangan dari Satpol, maupun aparat keamanan lainnya. Banyak pemulung yang datang dan menginap di dalam Pasar Batang, untuk membawa pulang besi beton bekas.

Menurutnya sebelum Pasar Batang dibongkar oleh pihak rekanan, sehari para pemulung bisa membawa besi hingga 50 kilogram, “Kalau sekarang hanya 1 kilogram sehari, untuk harga masih Rp 7 ribu. Jadi saat ini , sehari bisa bawa pulang Rp 70 ribu,” katanya.

Junaidi, 41, pekerja pada bongkaran Pasar Batang, mengaku bahwa pengawas dari rekanan pemenang lelang sudah berulang kali mengusir dan melarang pemulung untuk mengambil apa pun yang ada di Pasar Batang. Namun para pemulung tetap melakukan pengambilan barang, berupa kayu atau pun besi beton.

“Biasanya pemulung mengambil besi atau rongsok lainnya, pada malam hari, terkadang pada siang hari di saat jam istirahat,” jelasnya.
Junaidi juga menandaskan, agar semua besi dan barang lainnya tidak diambil oleh pemulung. Maka pihak rekanan menggunakan alat berat, untuk membongkar bangunan. Sehingga waktu yang seharusnya 2 bulan, dipercepat menjadi 1 bulan. “Bahkan jam kerja dan jumlah karyawan ditambah, kalau tidak seperti ini. Bongkaran bisa diambil oleh pemulung,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP, Kabupaten Batang, Ulul Azmi, menandaskan bahwa Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi dan UMKM, seharusnya langsung membuat penutup dengan pagar seng. Sehingga pemulung tidak masuk, dan mengambil barang di dalam Pasar Batang. Menurutnya pengamanan yang ada di Pasar Batang saat ditinggalkan oleh para pedagang, bukan lagi menjadi kewenangan Satpol PP. “Personel Satpol PP hanya 34 orang, jadi tidak mungkin untuk melakukan pengamanan, terhadap bongkaran Pasar Batang. Itu menjadi tanggungjawab dari rekanan pemenang lelang,” tegasnya. (thd/ric)