Para Pedagang Waspadai Beras Plastik

291
ANTISIPASI BERAS PLASTIK : Bongkar muat beras di salah satu gudang beras di Pasar Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI BERAS PLASTIK : Bongkar muat beras di salah satu gudang beras di Pasar Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Isu maraknya beras plastik yang mulai masuk ke pasaran Indonesia, menyebabkan para pedagang dan warga Kendal resah dan was-was. Warga khawatir jika beras yang diproduksi dari Negara China itu masuk ke wilayah Kendal.

Nur Wahyudin, 45, salah satu pedagang beras di Pasar Kendal mengaku dirinya belum menerima keluhan dari para pelanggan tentang adanya penemuan beras plastik. “Belum ada konsumen yang mengeluh adanya beras plastik sejauh ini. Saya berharap, jangan sampai beras plastik yang berbahaya itu dikonsumsi masyarakat,” ujarnya, Kamis (21/5) kemarin.

Untuk mengantisipasi masuknya beras plastik, pihaknya selalu melakukan pengecekan terhadap beras-beras yang masuk dari distributor ke gudangnya. “Tidak semua saya cek. Tapi saya cek satu sampel saja. Jika ada beras plastik, akan ketahuan berasnya bening dan tidak ada titik putih di tengahnya. Selain itu berasnya juga tidak bisa menyerap air,” katanya.

Pihaknya selalu menanyakan asal-usul beras kepada distributor saat beras datang ke gudang tokonya. “Rata-rata beras yang datang berasal dari lokal Jateng, tidak dari luar daerah, apalagi dari China,” tandasnya.

Ia mengaku isu beredarnya beras plastik belum mempengaruhi penjualan beras. Tapi, memang penjualan beras sedikit berkurang lantaran ada kenaikan harga beras dari distributor.

Kenaikan terjadi di semua jenis beras. Seperti beras jenis C4, naik Rp 1.200, dari harga semula Rp 7.500 menjadi Rp 8.700 per kilogram. Beras Bramo dari Rp 9.800 menjadi Rp 10.500 perkilo gram. Sedangkan beras Mentik Wangi dan Pandan Wangi harganya sama dari Rp 10 ribu menjadi Rp 12 ribu perkilo gram. “Saya tidak tahu penyebab kenaikannya. Mungkin karena menjelang puasa Ramadan ini,” akunya.

Kekhawatiran akan beras plastik juga diungkapkan, Lintang, 32, warga Ngilir, Kecamtan Kendal Kota. Ia mengaku khawatir jika beras tersebut sampai masuk ke pasar-pasar tradisional. “Sebab, pasti banyak warga yang tidak tahu jenis beras plastik tersebut. Karena secara bentuk, beras plastik sama dengan beras pada umumnya,” tuturnya.

Sementara itu, Sutiono, 50, salah seorang distributor beras asal Grobogan mengaku jika dirinya sejauh ini belum menemui beras plastik. Ia justru menjamin beras plastik tidak akan masuk ke wilayah Jateng.

“Sebab, Jateng adalah sentralnya pakan, mulai dari beras, jagung, kedelai dan sebagainya. Para distributor seperti saya selama ini, mengambil beras tidak dari luar daerah atau bahkan sampai impor dari luar negeri. Kebutuhan distributor di Jateng selama ini terpenuhi dari petani di Jateng,” tuturnya.

Ia mengaku beras-beras diambilnya dari masa panen di suatu daerah. Seperti beras yang disalurkannya ke pedagang, ia mengaku mengambil dari Sleman, Jogjakarta. “Setelah ini, musim panen ke Sragen. Nanti kami akan mengambil dari sana. Muter di wilayah Jateng saja sudah cukup,” tambahnya. (bud/ida)