Kapolres Memaafkan, Proses Berlanjut

220
DISIDANG : Sidang kasus unjuk rasa nelayan di Kabupaten Batang dengan dakwaan pengeroyokan,penganiayaan dan pengerusakan barang mulai digelar kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
DISIDANG : Sidang kasus unjuk rasa nelayan di Kabupaten Batang dengan dakwaan pengeroyokan,penganiayaan dan pengerusakan barang mulai digelar kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

BATANG – Empat terdakwa nelayan atas nama Riki Siswanto, 19, Irwan Adi Puryanto, 23, Delta Janu Fajar, 32, dan Eko Suroso, 26, warga Desa Klidang Lor, Kecamatan/Kabupaten Batang mulai disidang kemarin. Mereka adalah pelaku pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Kasat Reskrim Polres Batang, AKP Hartono, serta pengurusakan barang saat terjadi unjuk rasa nelayan di pantura Kabupaten Batang pada bulan Maret lalu.

Perkaranya mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batang, Rabu (21/5) siang dengan dua sidang terpisah. Sidang beragendakan pembacaan dakwaan pada masing-masing perkara. Sidang pertama dengan tiga terdakwa masing-masing Riki Siswanto, Irwan Adi Puryanto, dan Delta Janu Fajar, atas tuduhan pengeroyokan dan penganiayaan. Diketuai oleh majelis hakim yang diketuai Eka Prasetya, didampingi hakim anggota Ardiani, dan Budi Setiawan, dengan Jaksa Penuntut Umum Dony Rahmat.

Sedangkan terdakwa Eko Suroso, pelaku pengerusakan barang, diketuai oleh Majelis Hakim Kukuh Kalinggo, didampingi Moch Arief dan Moch Iza Nazarudin sebagai hakim anggota, dan Jaksa Penuntut Umum, Leily Melinda.

Puluhan warga Desa Klidang Lor yang sebagian besar adalah keluarga terdakwa mengikuti sidang dengan tertib. Namun suasana haru terlihat saat salah satu orang tua terdakwa Riki Siswanto, terus menangis di dalam persidangan melihat putranya yang duduk di kursi terdakwa.
Sidang pertama dengan acara pembacaan dakwaan jaksa Dony Rahmat menyatakan, bahwa tiga terdakwa yakni Riki, Irwan, dan Delta pada Selasa tanggal 3 bulan Maret lalu, telah melakukan pengeroyokan terhadap Hartono. “Saat itu AKP Hartono, Kasatreskrim Polres Batang, tengah bertugas mengamankan aksi demo nelayan. Namun 3 terdakwa justru mengeroyok dan melakukan penganiayaan terhadap Hartono,” ungkap Dony Rahmat.

Riki salah satu terdakwa kasus pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Hartono, mengaku menyesal atas tindakannya, dan tidak tahu yang dianiaya adalah seorang anggota polisi. ”Kami meminta maaf kepada Polres Batang, khususnya Pak Hartono Kasatreskrim. Peristiwa yang terjadi saat aksi unjuk rasa itu kami lakukan spontan,” katanya.

Ibu terdakwa Riki, Khalamah, 58, yang terus menangis saat persidangan, mengatakan bahwa anaknya tidak tahu menahu saat terjadi unjuk rasa nelayan tersebut. Menurutnya, saat itu Riki diajak oleh teman-temannya, dan ikut berangkat unjuk rasa. “Saat itu Riki baru bangun tidur cuci muka, langsung berangkat ikut unjuk rasa karena diajak teman-teman. Padahal sudah saya siapkan sarapan, mohon dimaafkan Pak Kapolres atas kekhilafan yang dilakukan Riki,” kata Khalamah mengiba.

Hal senada juga disampaikan oleh Kades Klidang Lor, Taufik Nur Ikmal Dakoni, bahwa warganya tersebut berprofesi sebagai nelayan, dan tidak tahu menahu soal unjuk rasa melainkan hanya ikut-ikutan saja. ”Saya atas nama terdakwa Eko Suroso juga, meminta maaf kepada Polri, khususnya Polres Batang, atas peristiwa unjuk rasa yang mengakibatkan adanya korban dan kerusakan barang,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Batang AKBP Joko Setiono, menegaskan bahwa pihaknya memaafkan perbuatan terdakwa. Namun, proses hukum tetap berlanjut. ”Kami memaafkan mereka, namun kasusnya sesuai prosedur hukum terus berlanjut. Ini sekaligus untuk pembelajaran tidak melakukan perbuatan anarkis,” tegasnya. (thd/ric)