25.7 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Cari Tiket Pesawat Murah, Hunting Diecast ke Luar Negeri

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

KUMPUL BARENG: Anggota Komunitas PK-SRG kerap memanfaatkan waktu setiap bulan untuk kumpul bareng di Hotel @HOM Jalan Pandanaran Kota Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)
KUMPUL BARENG: Anggota Komunitas PK-SRG kerap memanfaatkan waktu setiap bulan untuk kumpul bareng di Hotel @HOM Jalan Pandanaran Kota Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Komunitas Papa Kilo Semarang (PK-SRG) bisa dibilang unik. Kumpulan para penyuka pesawat ini getol mengikuti jadwal penerbangan yang take off atau landing di Kota Semarang. Meski kadang sekadar melihat atau mengabadikannya lewat mata lensa. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

TIDAK asal suka, anggota komunitas PK-SRG yang hanya 20 orang ini, juga belajar simulasi penerbangan (flight simulator). Dengan begitu, mereka menjadi lebih tahu bagaimana seharusnya posisi pesawat ketika tinggal landas atau mendarat.

”Kami juga merasakan sensasi para pilot yang mengemudikan pesawat. Pasti lebih mendebarkan yang asli, karena membawa puluhan nyawa,” kata salah satu anggota, Vincent Herdison.

Diakuinya, anggota komunitas PK-SRG menyukai apa pun yang berbau pesawat. Mulai fotografi, diecast (miniatur pesawat terbang, Red), maupun sosialisasi kepada masyarakat mengenai seluk-beluk transportasi udara.

”Di antara yang menjadi tanda tanya masyarakat, mungkin terkait HP yang harus dimatikan saat pesawat hendak lepas landas, landing dan info lain yang dianggap keliru. Itu sebabnya masyarakat perlu diberi edukasi mengenai hal tersebut. Saya juga aktif mengedukasi masyarakat lewat siaran radio lokal Good News FM,” ujar Vincent yang juga pengamat penerbangan ini.

Pengetahuan itu, tuturnya, didapat dari beberapa anggota PK-SRG yang berprofesi sebagai pilot dari berbagai maskapai penerbangan yang pernah membawa aneka macam pesawat.

Selain agenda kumpul saban bulan, anggota PK-SRG juga kerap terbang ke luar negeri untuk melihat kondisi landasan di bandara di berbagai negara. Setelah puas mengamati dan hunting foto, biasanya Vincent dkk juga berburu replika pesawat yang bentuk dan jenisnya lebih mirip aslinya. ”Yang kami cari, tentunya yang tidak ada di Indonesia. Kan ada diecast limited edition yang hanya beredar di negara-negara tertentu,” ucapnya.

Ditambahkan Vincent, karena para anggota komunitas PK-SRG tergolong bukan orang-orang kaya, akan memesan tiket pesawat jauh-jauh bulan sebelumnya, agar mendapatkan harga murah. Beberapa waktu lalu, anggota komunitas sempat berangkat ke tiga negara di ASEAN dengan biaya pesawat PP hanya Rp 600 ribu. ”Dan foto-foto hasil jepretan anggota PK SRG juga telah diakui di kalangan internasional,” ujar Vincent tersenyum.

PK-SRG juga mengambil bantuan radar automatic dependent surveillance-broadcast (ADS-B) yang difasilitasi pihak Flightradar24 dari Jerman. Radar ini untuk menangkap sinyal pesawat dan diberikan gratis oleh Jerman pada mereka yang mau menjadi sukarelawan.
”Perangkat tersebut telah terpasang dan aktif sejak 15 November 2013 di lantai atas Hotel @HOM Semarang. Kebetulan pemilik hotel ini juga pencinta dunia penerbangan,” ujar Vincent.

Aplikasi ini, lanjutnya, dapat diunduh melalui situs resmi yang dapat dijalankan pada perangkat mobile berbasis iOS dan Android atau bisa juga mengakses Flightradar24 melalui browser. Data yang dimiliki Flightradar24 berasal dari Badan Otoritas Penerbangan AS (FAA) dan sistem ADS-B di negara-negara lain.

Hingga saat ini, sudah ada 10 titik radar ADS-B. Bagi penerbang, mereka suka dan senang adanya radar. Lantaran memiliki unsur kemanusiaannya juga di sini. ”Kami bisa tracking pesawat lewat HP, ketinggian, kecepatan pesawat bisa terbaca lewat radar tersebut. Kami juga diperbantukan, karena kami memilki radar ADS-B. Mungkin, inilah sumbangsih PK-SRG terhadap dunia penerbangan di Kota Semarang saat ini. Ini boleh diakses oleh siapa pun, ini hanya sekadar informasi untuk masyarakat luas,” tandasnya.

Dikatakan Vincent, nama komunitas yang lahir 2008 silam ini merupakan registrasi pesawat Indonesia, PK (Papa Kilo). Sedangkan SRG adalah kode tiga huruf penerbangan International Air Transport Association (IATA) untuk Bandar Udara Internasional Achmad Yani, Semarang. (*/ida/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -