Rasio Dosen dan Mahasiswa 1 Banding 30

237

SEMARANG – Beberapa Perguruan Tinggi (PT) di Kota Semarang mengaku tidak memperoleh kendala dari dampak edaran Nisbah PT terkait rasio dosen dan mahasiswa. Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, Suparyono, nisbah yang mengatur rasio dosen dan mahasiswa tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan di PT.

”Jika jumlah dosen dan mahasiswa tertata dengan baik, maka kuliah akan efektif. Dalam nisbah tersebut memang diatur, perbandingan ideal antara dosen dan mahasiswa dalam satu kelas yaitu 1 berbanding 30. Kalau lebih dari itu maka pembelajaran tidak akan efektif,” tutur Suparyono kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (20/5).

Dijelaskannya, kini empat Prodi (Program Studi) di Fisip Untag, dihuni sebanyak 700 mahasiswa yang diampu dosen sebanyak 58 orang. Menurutnya, rasio tersebut sebanding dengan nisbah yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) itu. ”Selama ini kita mematuhi rasio yang dianjurkan oleh Kemendikti. Memang, ada kebijakan dari pemerintah, jika ada universitas yang rasio dosen dan mahasiswa tidak sebanding maka akan ditutup. Baik itu prodi maupun universitas. Ini harus kita terima, karena kebijakan itu sangatlah bermanfaat guna memajukan kualitas pendidikan di PT,” katanya.

Terpisah, Rektor Universitas PGRI Semarang (Upgris), Muhdi mengatakan jika kini pihaknya selalu patuh dan taat dengan segala regulasi dan kebijakan yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Sehingga ketika diterbitkannya nisbah yang mengatur soal rasio dosen dan mahasiswa, tidak terlalu merisaukan pihaknya.

”Memang, nisbah itu sudah diedarkan ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Kita (Upgris) pada posisi yang taat dan ideal. Rasio kami pada bulan-bulan seperti sekarang ini bahkan di bawah 1 berbanding 30. Artinya, pembelajaran sangatlah efisien. Kita termasuk PT yang tidak ada masalah dengan nisbah. Sehingga kita tidak pernah mendapatkan peringatan,” katanya.

Mengelola PT, lanjut Muhdi harus sesuai dengan tujuan dan esensi dari pendidikan itu sendiri. Artinya tidak diperkenankan menyelenggarakan PT untuk kualitas yang tidak baik. Meski begitu, Muhdi tetap berharap agar pemerintah memberikan kelonggaran terkait rasio dosen dan mahasiswa tersebut. ”Bagaimanapun juga rasio harus kita lakukan sebagai syarat sebuah PT itu bisa menjalankan pembelajaran lebih baik. Seiring dengan kemajuan zaman, pembelajaran kini sudah menggunakan teknologi. Sehingga intensitas kehadiran dosen tidak setinggi waktu-waktu yang lalu. Kita berharap rasio ini bisa direnggangkan sedikit. Karena ilmu eksak (IPA) itu kan 1 berbanding 30, tetapi yang LPTK seringnya susah,” katanya.

Menanggapi nisbah PT itu, Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Yos Johan Utama mengatakan pemerintah yang telah mengatur rasio antara dosen dan mahasiswa tersebut merupakan sebuah kepatutan karena berkaitan dengan kualitas sebuah produk dari PT. ”Kalau jumlah dosen itu terlalu kecil sedangkan jumlah mahasiswa terlalu besar, ini kan berbahaya. Bisa jadi kualitas pembelajarannya kurang. Akibatnya, mutu pendidikan bisa turun. Nisbah diharapkan dengan mudah untuk meningkatkan mutu,” kata Yos.

Sementara, lanjut Yos, bagi PT yang belum memenuhi kriteria tersebut sebaiknya memikirkan betul dan segera untuk berbenah. Menurut Yos, sebuat PT seharusnya tidak terlalu berlebihan dalam menerima mahasiswa baru. Hal itu berlaku untuk PTS maupun PTN. Ia mengkhawatirkan jika tidak seimbang maka kualitas pendidikan di sebuah PT menjadi kurang bermutu. (ewb/zal/ce1)