Pedagang Enggan Menempati Kios

329
SEMPIT- Anggota DPRD dan SKPD Kabupaten Semarang meninjau los daging di Pasar Projo  dan menemukan banyak yang kosong, kemarin. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMPIT- Anggota DPRD dan SKPD Kabupaten Semarang meninjau los daging di Pasar Projo dan menemukan banyak yang kosong, kemarin. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Permasalahan di Pasar Projo Ambarawa sepertinya tidak akan pernah selesai. Mulai dari kisruh penempatan pedagang, sampai pungutan liar yang sampai saat ini belum tuntas. Persoalan lain muncul yakni dengan banyaknya pedagang daging sapi, ikan dan ayam yang keberatan menempati los yang disediakan. Sebab, luas los yang disediakan terlalu sempit sehingga tidak layak untuk berjualan.

Badan Anggaran DPRD Kabupaten Semarang yang terdiri dari sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang dan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) melakukan tinjauan di pasar Projo, kemarin. Hasilnya banyak temuan permasalahan yakni luasan los daging, ikan dan ayam tidak layak. Selain itu ada juga laporan dari pedagang terkait kurangnya sarana dan prasarana serta masih banyak bangunan yang belum beres.

Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto mengatakan, kunjungan di pasar Projo dilakukan karena Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan mengajukan anggaran untuk pembangunan los daging di pasar Projo Ambarawa. Padahal pasar Projo telah dibangun dan ada los dagingnya. Sehingga dilakukan tinjauan lokasi untuk mendapatkan gambaran secara detail kondisi di los daging saat ini. “Tinjauan pasar Projo ini dalam rangka Banggar yang membahas tentang pengajuan anggaran untuk pembangunan los daging di belakang pasar Projo,” kata Bambang ditemui usai tinjauan di Pasar Projo, kemarin.

Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, dari hasil tinjauan dilokasi pihaknya melihat penataan pedagang di Pasar Projo masih campur aduk, tidak sesuai komoditas. Selain itu di los daging juga masih campur tidak ada pemisahan antara pedagang daging sapi, ayam maupun ikan. Selain itu masih campur dengan komoditas lainnya. Selain itu ukurannya sangat sempit yakni hanya 2 meter persegi, sehingga pedagang tidak mau berjualan di los tersebut. “Ukuran losnya sempit, padahal pedagang itu bawa gobang untuk berakhitivitas mencacah atau memotong daging. Jika losnya sempit ini membahayakan, karena jaraknya berdekatan. Semestinya ada perumahan, tetapi saat ada perubahan DED (detail engineering design), malah didiamkan tidak ada perubahan,” imbuhnya.

Bambang mengatakan, pembangunan los daging di belakang pasar Projo yang diusulkan oleh Dinas UMKM Koperasi dan Perindag dengan anggaran mencapai Rp 1,9 miliar dari pusat itu bukan solusi yang baik. Sebab jika nanti dibuatkan los di bawah, maka pedagang yang ada di atas akan turun ke bawah. “Sehingga akan lebih baik jika seluruh pedagang tetap masuk di dalam pasar yang sudah jadi. Anggaran yang ada tinggal digunakan untuk menata ulang losnya agar ideal. Sehingga pedagang nyaman untuk berjualan,” tambahnya.

Sekda Kabupaten Semarang, Gunawan Wibisono mengatakan, dari masukan, pedagang daging, ikan dan ayam yang belum mau masuk ke pasar Projo ternyata ada beberapa kendala yakni desainnya belum sesuai harapan mereka. Sehingga Pemerintah Kabupaten Semarang berupaya untuk memperbaikinya. “Pemerintah Kabupaten Semarang ingin menyempurnakan pasar Projo sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pedagang. Salah satunya anggaran dari pusat akan dimanfaatkan untuk ini termasuk untuk pembuatan fasilitas lain seperti musola dan pagar. Tentunya untuk penataan ulang itu harus dimusyawarahkan juga bersama pedagang sehingga bisa dimanfaatkan,” katanya. (tyo/fth)