KEMISKINAN: Kepala BPS Demak Prita Rextiana menyampaikan pra pemutakhiran data terpadu 2015 kepada para camat dan kepala dinas di ruang Bina Praja, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEMISKINAN: Kepala BPS Demak Prita Rextiana menyampaikan pra pemutakhiran data terpadu 2015 kepada para camat dan kepala dinas di ruang Bina Praja, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Tingkat kemiskinan di wilayah Demak hingga kini masih tergolong sangat tinggi. Paling parah, tingkat kemiskinan tersebar di lima kecamatan. Yaitu, Kecamatan Wedung, Kecamatan Bonang, Kecamatan Dempet, Kecamatan Guntur dan Kecamatan Karangawen. Berdasarkan data BPS sebelumnya, perkembangan jumlah penduduk miskin dan tingkat kemiskinan di Demak hingga 2013 tercatat ada 172.500 jiwa.

Karena itu, untuk mengetahui jumlah kemiskinan terkini, mulai 25 Mei ini, Badan Pusat Statistik (BPS) segera melakukan pendataan rumah tangga miskin yang baru. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemkab Demak, drh Tri Puji Lestari mengungkapkan, data terpadu hasil pendataan program perlindungan sosial (PPLS) sebelumnya menyebutkan bahwa, permasalahan kemiskinan di Demak bisa dilihat dari beberapa faktor.

Dari sisi ekonomi indikatornya adalah kepala rumah tangga (KRT) perempuan usia produktif mencapai 10.153 jiwa. Mereka bekerja disektor pertanian ada 61.868 jiwa. Kemudian, KRT dengan pendidikan dibawah 9 tahun mencapai 104.604 jiwa serta bahan bakar memasak selain listrik dan gas atau elpiji sebanyak 68.252 rumah tangga. Selain itu dilihat dari tingkat kesehatan, angka kecacatan mencapai 7.086 jiwa dan berpenyakit kronis ada 15.261 jiwa.

Sedangkan, dari sisi pendidikan, penduduk usia sekolah namun tidak bersekolah berjumlah 27.370 jiwa. Dari infrastruktur rumah tidak layak huni (RTLH) ada 89.849 rumah tangga. Sumber air minum yang tidak terlindung tercatat 19.393 rumah tangga serta tidak ada listrik 248 rumah tangga. Sementara, dari keadaan lingkungan yang tidak ada fasilitas tempat buang air besarnya ada 44.354 rumah tangga serta pembuangan air tinja selain tangkai/spal ada 75.822 rumah tangga. “Semua data sampai sekarang masih mengacu BPS. Karena itu, pelibatan pemerintah daerah sangat penting sehingga bisa membantu pendataan tersebut,” kata Tri Puji Lestari disela sosialisasi pemutakhiran data terpadu (PBDT) 2015 diruang Bina Praja, kemarin.

Kepala BPS Demak, Prita Rextiana mengatakan, pendataan rumah tangga miskin 2015 ini akan mencakup sebanyak 28 juta rumah tangga sasaran (RTS). Sedangkan, di Demak sendiri ada 196.625 RTS. Metode yang dijalankan dengan cara kunjungan langsung (door to door). “Kita kerahkan sebanyak 140 ribu mitra statistik. Untuk Demak ada 765 orang,”katanya.

Sebelum melaksanakan tugasnya dalam pendataan itu, mereka dilatih instruktur nasional. Data yang dicatat petugas meliputi, identitas RTS, demografi, ketenagakerjaan, perumahan, kepesertaan program, kepemilikan aset, kesehatan, pendidikan dan aset lainnya. Kepala Bappeluh KP, Tri Wahyu Hapsari mengingatkan para petugas BPS agar lebih jeli dalam mendata. Sebab, biasanya dilapangan akan banyak ditemukan fenomena diluar dugaan. “Misalnya saja, kelihatannya miskin tapi ternyata kaya. Pembantu saya saja berkali-kali ibadah umrah. La ndorone (bose) saja tidak. Ada yang kelihatnnya tidak punya tapi tabungannya banyak. Jadi, petugas yang mendata harus teliti terhadap RTS yang didata,”katanya sembari tertawa.

Camat Mranggen, Wiwin Edi Widodo dalam kesempatan itu mencoba protes karena hingga sekarang ini sudah ada pendataan serupa selain dari BPS. Banyaknya pendataan sempat membuat para kepala desa merasa kebingungan dan mempertanyakan ke camat setempat. “Terlalu banyak pendataan sehingga pusing juga kita,” katanya. (hib/fth)