Harga Gabah Merosot, Petani Menjerit

187
PANEN: Sebagian petani di Demak bagian timur kini telah melakukan panen padi pada musim tanam (MT II), kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN: Sebagian petani di Demak bagian timur kini telah melakukan panen padi pada musim tanam (MT II), kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Sejumlah petani di Demak sudah memasuki Panen raya padi musim tanam (MT II). Diantaranya Kecamatan Karanganyar, Gajah, sebagian Dempet dan Wonosalam. Meski demikian, panen kali ini tidak membuat para petani berbahagia sebagaimana panen raya pada MT I lalu. Penyebabnya harga gabag hasil panen kurang menggembirakan. Petani pun menjerit.

Harga padi ditingkat petani anjlok hingga separuh dari panen lalu. Bila pada MT I harga gabah bisa mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta perbahu, kini sebaliknya hanya laku sekitar Rp 12 juta hingga Rp 16 juta perbahu. Selain faktor kualitas padi yang menurun akibat cuaca, permainan harga gabah oleh tengkulak cukup merugikan petani. Sebab, harga beras dipasaran sebetulnya masih cukup tinggi antara Rp 9 ribu hingga Rp 12 ribu perkilogram. Namun, harga gabah justru turun drastis.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Pemkab Demak, Ir Wibowo mengatakan, sebetulnya harga gabah kering panen (GKP) ditingkat petani berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015 harga panen tersebut masih diatas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.700 perkilogram gabah kering giling. Meski demikian, harga tidak sebaik MT I lalu. “Memang secara umum kondisi harganya sedikit kurang bagus dibandingkan panen sebelumnya. Tapi, harga sekarang masih diatas HPP tipis. Yaitu, harganya antara Rp 3.800 hingga Rp 4 ribu perkilogram gabah kering panen,” katanya, kemarin.

Wibowo menambahkan, kualitas padi yang bagus masih mampu dihargai lumayan tinggi. Sebaliknya, yang produksinya kurang bagus harganya otomatis merosot. Kendati demikian, petani diklaim masih dapat menikmati hasil panen tersebut, kecuali petani yang memiliki banyak hutang. “Pada MT II ini kan selain cuaca juga ada gangguan hama penggerek batang. Hama itu membuat isi buliran padi kosong sehingga tampak putih tak berisi. Walau begitu, yang terkena penggerek batang tidak seberapa,” tambahnya. (hib/fth)