Disoal, Lambang Negara Dijadikan Resleting

188
TUAI KRITIK: Lambang negara, Garuda Pancasila justru dijadikan resleting. Meski maksudnya baik, namun sejumlah kalangan menilai hal tersebut kurang pantas. Wagub Heru Sudjatmoko bersama Kapten Jono tengah melihat baliho yang disoal. Foto kedua, petugas menutup baliho dengan kain. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
TUAI KRITIK: Lambang negara, Garuda Pancasila justru dijadikan resleting. Meski maksudnya baik, namun sejumlah kalangan menilai hal tersebut kurang pantas. Wagub Heru Sudjatmoko bersama Kapten Jono tengah melihat baliho yang disoal. Foto kedua, petugas menutup baliho dengan kain. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

MUGASSARI — Kreativitas Pemprov Jateng dalam mendesain baliho untuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) justru menuai protes dari sejumlah kalangan. Baliho raksasa yang menggambarkan bendera merah putih disatukan (resleting) dengan gantungan Garuda Pancasila, itu terpasang di gedung Gubernuran Jateng.

Baliho tersebut berukuran 13×4 meter. Menggambarkan sebuah bendera merah putih yang disatukan dengan resleting warna emas dengan gantungan Garuda Pancasila. Di bagian warna merah terdapat tulisan ”Bangkit Merawat Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional” dan di bagian warna putih terdapat logo Pemprov Jateng dan 107 tahun Kebangkitan Nasional.

Desain baliho tersebut mengundang kritikan dari masyarakat yang melintas dan melihat baliho tersebut. Pun dengan PNS dan anggota TNI. ”Itu tidak pas, lambang negara tempatnya di situ. Itu kalau tidak dikasih gambar garuda saja orang yang melihat sudah tahu,” ujar Dandim 0733 Kota Semarang, Letkol Puji Setiono, yang saat itu mendatangi kantor Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan.

Pihaknya mengimbau agar baliho itu segera diturunkan. Dandim bertemu dengan Kabag Humas Pemprov Jateng, Sinung. Usai berbincang, Sinung menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya dan meminta baliho segera diturunkan.

Lebih lanjut, Letkol Puji Setiono mengatakan baliho tersebut sebenarnya wujud kreativitas namun porsi penempatan lambang negara tidak sesuai. ”Itu suatu kreativitas tetapi salah, karena membuat lambang negara ditempatkan tidak sesuai dengan porsinya. Ada merah putih dan resleting dan garuda jadi resleting bahkan ada bagian terbuka antara merah dan putih,” pungkas Puji.

Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Ali Mansur menyayangkan pemasangan baliho yang dilakukan Pemprov Jateng. Ia tidak mempersoalkan jika memang pemprov ingin melakukan kreativitas. Tapi jangan sampai kreativitas itu justru membuat publik salah arti. ”Bendera merah putih dan garuda itu lambang negara. Jadi jangan dibuat untuk kreasi, karena nanti justru menimbulkan salah tafsir,” katanya, kemarin.

Ia menambahkan, kreativitas pemprov jelas salah kaprah. Sebab, di tengah bendera merah putih diberi resleting serta ada gambar garuda terbalik dengan posisi miring. Ia menilai, spirit dan pesan visual dari peringatan Harkitnas yang ingin ditunjukkan pemprov justru hilang. ”Sebenarnya itu kan ada pesan penting, tapi karena kreativitas yang keliru akhirnya justru pesan tidak tersampaikan,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Wagub Heru Sudjatmoko yang didampingi oleh humas Sinung menyatakan, segera mengambil tindakan dengan memanggil petugas yang memasang agar segera menurunkan baliho tersebut. ”Baliho ini dipasang tadi malam, dan kami dorong agar segera dicopot,” katanya. Dan petang kemarin, baliho tersebut pun ditutup menggunakan kain.

Sinung sekali lagi menegaskan, tidak ada niatan melecehkan lambang negara atau seperti pemikiran banyak orang. Gambar yang didesain Humas Pemprov Jateng lebih mengajak agar masyarakat kembali ke rel yang benar. Jalur bersatu untuk memajukan dan membawa NKRI ke arah yang lebih baik. ”Jangan dipikir resleting identik dengan celana, toh jaket juga pakai. Jadi kami tegaskan, itu hanya bentuk ekspresi untuk mengajak bersatu,” tambahnya (hid/fth/zal/ce1)