Berharap Pasar Dugderan di Area MAS Tetap Dibuka

237

LEMPONGSARI – Budayawan Kota Semarang Jawahir Muhammad berharap kepada Pemkot Semarang untuk tidak meniadakan pasar Dugderan sepenuhnya. Sebab, hal itu sudah menjadi tradisi yang harus dipertahankan dan dilestarikan.

Diketahui, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengeluarkan kebijakan terkait penyelenggaraan pasar Dugderan menyambut Ramadan ditiadakan. Mengingat kondisi pedagang Pasar Johar pasca peristiwa kebakaran, belum bisaa berjualan dengan baik. Sehingga kurang pas, jika suasana seperti saat ini digelar pasar Dugderan. Apalagi selama ini pasar Dugderan memanfaatkan kawasan Johar dan sekitarnya.
”Kami setuju dengan pemikiran pak wali, saat ini dalam suasana prihatin atas terbakarkan Pasar Johar. Tapi ya jangan berlebihan, dengan menghilangkan pasar Dugderan. Karena itu sudah menjadi tradisi rakyat yang sifatnya legaliter. Jadi saya minta jangan dihilangkan sama sekali,” terang Jawahir, saat berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Semarang, Jalan Veteran 55, kemarin (20/5).

Menurut Jawahir, ada beberapa titik pasar Dugderan yang tidak boleh dihilangkan sama sekali pada tahun ini. Yakni di kawasan depan Masjid Agung Semarang (MAS) atau masjid Kauman. Di mana sepekan jelang bulan Ramadan, kawasan tersebut selalu dipenuhi para pedagang yang menjual berbagai macam barang dan makanan. Mulai dari celengan, patung warak ngendog, gangsing, dan permainan tradisional lainnya. ”Tolong yang pasar lokal di kawasan Masjid Kauman itu jangan dihilangkan, karena itu yang memberi warna saat tradisi Dugderan. Kalau yang permainan seperti tong setan dan komedi putar, itu saya setuju kalau ditiadakan,” tandasnya.

Meski rencananya pasar Dugderan ditiadakan, namun prosesi Dugder tetap berlangsung. Dan diklaim akan lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang memastikan jika karnaval dugder akan tetap digelar tahun ini.
Kabid Kebudayaan Disbudpar Kasturi mengatakan, pawai dugder akan dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama digelar adalah kegiatan pendukung yakni Lomba Tari Warak, (9/6) dan Lomba Rebana (10/6). Adapun kegiatan kedua adalah karnaval Budaya Dugder dan Mobil Hias (15/6) di Simpang Lima. Kegiatan ini akan diikuti ribuan siswa TK hingga SMP se-Kota Semarang. ”Ada sekitar 9 ribu peserta yang akan mengikuti karnaval budaya ini serta puluhan mobil hias dari hotel, perbankan dan Dinas Pertanian,” tukasnya.

Sedangkan acara puncak dugder adalah upacara prosesi yang digelar 16 Juni. Prosesi ini akan melibatkan Wali Kota Hendrar Prihadi sebagai Kanjeng Bupati RMT Aryo Purbaningrat serta arak-arakan pasukan berkuda, kereta kencana dan peserta karnaval dari 16 kecamatan.
Dalam kesempatan ini, wali kota akan membacakan Shukuf Halaqoh, menabuh beduk dan meledakkan bom udara sebagai tanda dimasukinya bulan Ramadan. Acara dilanjutkan dengan pembagian air khataman Alquran dan kue ganjel rel. ”Setelah itu, rombongan wali kota akan menaiki bus menuju MAJT sementara peserta karnaval dibubarkan dan tidak ikut ke MAJT demi alasan ketertiban lalu lintas karena sangat panjang arak-arakannya,” imbuh Kasturi. Di MAJT, wali kota akan menyerahkan Shukuf kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang bertindak sebagai Raden Mas Tumenggung Probo Hadikusumo. (zal/ce1)