Sempat Ditentang Istri, Kini Petik Hasilnya

1198
PENCINTA LOVE BIRD: Eri Purwanto (kiri) bersama pencinta Love Bird. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENCINTA LOVE BIRD: Eri Purwanto (kiri) bersama pencinta Love Bird. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENCINTA LOVE BIRD: Eri Purwanto (kiri) bersama pencinta Love Bird. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Eri Purwanto, 35, pernah menjadi manajer di perusahaan asing. Namun ia memilih resign dan banting setir menjadi peternak burung jenis Love Bird.

ADENNYAR WYCAKSONO

SIAPA yang tak kenal burung jenis Love Bird. Burung yang memiliki paruh bengkok ini banyak digandrungi para pencinta hewan peliaraan ini. Apalagi suara kicaunya yang khas, dan memiliki harga jual yang sangat tinggi. Alhasil, menjadi peternak Love Bird, tentunya sangatlah menggiurkan.

Di rumah sederhana yang di Perumahan Dempel Baru Blok Perak 1 No 11 Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Semarang, koran ini sudah disambut suara kekekan khas kicauan Love Bird, meski baru sampai di mulut gang. Puluhan kandang burung ini pun terlihat digantung di depan rumah yang tentunya membuat suasana hati menjadi damai walaupun berjalan di bawah teriknya sinar matahari.

Sampai di rumah Eri, sudah disambut jejeran burung Love Bird yang digantung di teras rumah. Selain itu juga berjajar beberapa Love Bird yang ditangkarkan di pojok teras rumah. Pria berkumis tipis itu pun langsung bercerita awal mula dirinya mulai menekuni peternakan Love Bird.

Eri mengatakan, jika awal ia mulai berternak adalah dari salah satu rekan kerjanya dulu yang memelihara Love Bird dan begitu menggilainya hingga enggan disuruh lembur.

”Saya heran, kenapa anak buah saya nggak mau lembur. Setelah saya selidiki, ternyata ia punya tiga pasang Love Bird, bahkan ia tak ragu menjual ketika burungnya bertelur dan menetas. Saat itu, sekali panen bisa mencapai 5-6 ekor, yang dijual per ekor bisa mencapai Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta,” katanya.

Saat itulah, tepatnya pada 2008, di mana burung jenis ini belum banyak yang mengenal dan memiliki harga yang mahal, ia pun nekat menggeluti peternakan Love Bird sendiri dan memutuskan keluar dari perusahaan.

Keputusannya saat itu jelas mendapat tentangan dari keluarganya, terutama sang istri, Siti Ika Winarni. Namun dengan keyakinan dan tekad kuat, akhirnya ia pun mendapatkan restu dan membuktikan jika keputusannya adalah benar.

”Dulu awal kali berternak, saya beli indukan sepasang Love Bird Lutino. Waktu itu, harganya mencapai Rp 12 juta. Kemudian beranak, anaknya saya jual, saya belikan indukan lagi, jadi makin banyak. Walaupun saat itu sempat nggak didukung sama sang istri,” kenangnya.
Ayah empat anak ini mengaku, saat ini dirinya memiliki lebih dari 30 pasang indukan Love Bird berbagai jenis mulai dari Lutino, Batman, Violet, Albino, Palamas, sampai Blorok. Dari 30 pasang tersebut setiap bulannya rata-rata kurang lebih 20 anakan bisa dipanen.

”Ini hanya beberapa, kalau yang banyak saya titipkan di mertua. Omzetnya jelas sangat tinggi saat panen, bahkan kalau dihitung penghasilan sekarang tiga kali lipat dari waktu masih bekerja dulu,” ucapnya tanpa mau menyebutkan nominal penghasilannya.

Menurut dia, berternak Love Bird lumayan gampang-gampang susah. Ia sendiri hanya menggunakan kandang kecil, yang berukuran kurang lebih 40×60 sentimeter. Namun saat menjodohkan Love Bird, ia menggunakan kandang khusus lantaran Love Bird menggunakan sistem koloni saat berkembang biak.

Kini setelah sukses menangkar, ayah dari Ayu Anggraeni, Faisal Wafi Ramadhan, Revalina Putri Aprilia, dan Afifah Khairunisa ini memasarkannya sampai ke luar daerah, seperti Bandung, Bekasi bahkan Kalimantan menjadi langganannya.

”Peminat di kota-kota ini sangat besar, jelas pasar yang empuk untuk memasarkan Love Bird yang saya kembangbiakkan,” ujarnya bangga.
Kualitas burung yang ia ternak ini bukanlah sembarang. Banyak pencinta burung berkicau selalu menyebut namanya lantaran burung hasil anakan memiliki kualitas wahid, yakni burung yang punya trah menjadi juara. Bahkan ia banyak dijuluki oleh pencinta Love Bird sebagai master of love bird.

”Saat ini Love Bird sedang booming, tapi harganya juga murah. Karena itu, saya hanya main di trah khusus kekekan karena harganya masih mahal,” akunya.

Walaupun sudah sukses, peternakan miliknya bukan berarti tidak mengalami kendala. Menurut dia, kendala utama ternak Love Bird adalah tiga M. ”Tiga M atau Maling, Mati, dan Mabur (terbang),” candanya.

Sebagai seorang peternak yang sukses, tentu nama Eri menjadi rujukan bagi pencinta burung ini untuk sekadar belajar beternak Love Bird ataupun perawatan Love Bird juara. Ia pun membuka tangan lebar untuk para pencinta Love Bird yang mau belajar menjadi peternak.
”Nggak sulit kok, yang jelas harus sabar dan telaten karena burung ini harus selalu diperhatikan. Kalau perawatannya biasa saja, pakan, kebersihan kandang, dan juga vitamin tentunya,” tutupnya. (*/aro/ce1)