PUPUK PALSU: Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Edhy Moestafa dan Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Liliek Darmanto menunjukkan pupuk ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUPUK PALSU: Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Edhy Moestafa dan Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Liliek Darmanto menunjukkan pupuk ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUPUK PALSU: Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Edhy Moestafa dan Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol A Liliek Darmanto menunjukkan pupuk ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BANYUMANIK – Kreativitas S, 52, dalam meracik pupuk pertanian berujung di sel tahanan. Sebab, pupuk yang diproduksi dinilai tidak berizin alias ilegal. Tak main-main, dari bisnis haramnya ini, tersangka mampu mengeruk keuntungan hingga Rp 40 juta sebulan.

Namun S akhirnya dibekuk oleh tim dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Tersangka dengan mendirikan CV Mutiara Mas yang beralamat di Jalan Tlogowungu, Gunung Rowo Km 1, Desa Purwosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, sebenarnya telah punya satu produk pupuk yang memiliki izin. Namun dalam perkembangannya, tersangka memproduksi dua produk berlabel pupuk SP-36 dan Pupuk Phoska Super yang perizinannya menumpang pada produk pupuk sebelumnya.

”Tersangka memproduksi pupuk SP-36 dan Phoska Super tidak memiliki izin,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng, Kombes Pol Edhy Moestafa kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (19/5).

Dijelaskan Edhy, dalam teknisnya, tersangka meracik pupuk tersebut menggunakan bahan-bahan kimia. Untuk pupuk SP-36, setiap produksi 1 ton, tersangka menakar Phosphate 800 kg, Magnesium 100 kg, kalsium 100 kg, dan sulfur 5 kg. Sedangkan pupuk Phoska Super setiap 1 tonnya terdiri atas karbon organik 800 kg, magnesium 100 kg, phosphate 100 kg, calsium oxide 5 kg, dan amino acide 5 kg.

”Pupuk-pupuk tersebut diedarkan untuk perkebunan kelapa sawit dan merica di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. Dia mendapat pesanan dari sana,” ujar Edhy.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol A Liliek Darmanto menambahkan, tersangka dalam satu bulan sedikitnya melakukan pengiriman dua kali. ”Omzet satu bulan mencapai Rp 100 juta. Tersangka mendapat keuntungan Rp 40 juta per bulan,” kata Liliek.

Penyidik menyita sejumlah barang bukti, masing-masing 13 ton pupuk SP-36, 9 ton pupuk Phoska Super, mesin jahit karung, dan berbagai bahan maupun kemasan pupuk. Oleh tersangka, pupuk Phoska dijual dengan harga Rp 50 ribu per zak berukuran 50 kg. Sedangkan SP-36 per zak 50 kg dijual Rp 55 ribu.

Tersangka S mengaku usahanya tersebut telah berlangsung selama tiga bulan. Ia mengaku sejauh ini telah mengajukan perizinan, namun izin tersebut belum keluar. ”Saya menerima pesanan untuk perkebunan kelapa sawit dan merica di Pangkal Pinang. Sudah kirim enam kali, sekali kirim pakai kapal bisa seminggu,” ujar S.

Namun demikian, tersangka S hingga kini belum dilakukan penahanan. Dia akan dijerat pasal 60 ayat 1 huruf 6 jo pasal 37 ayat 1 UU RI Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dengan ancaman pidana 5 tahun dan atau denda Rp 250 juta.

Selain itu, dijerat pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf a dan atau UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan atau denda Rp 2 miliar. (amu/aro/ce1)