SEMARANG – Dua tersangka kasus korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Cabang Semarang periode 2012 – 2013 akan dipanggil ulang oleh tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang. Pemanggilan akan dilakukan hari ini, Selasa (19/5) untuk melengkapi berkas pemeriksaan.

Kedua tersangka adalah Djody Aryo Setyawan selaku mantan bendahara KONI Semarang dan Suhantoro, mantan Kepala UPTD Kasda Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Semarang. Keduanya saat ini sudah menghuni Lapas Kedungpane, Semarang. ”Besok (hari ini) ada pemeriksaan tersangka. Selain itu ada pemeriksaan saksi yang meringankan karena ditambahkan,” kata Kepala Kejari Semarang, Asep Nana Mulyana melalui Kasi Tipidsus Sutrisno Margi Utomo.

Dia juga menyebutkan kepada pihak-pihak yang turut merasakan dana hibah tersebut tanpa pertanggungjawaban agar segera mengembalikan sebelum dikeluarkan sprindik baru. Menurutnya, apabila dikembalikan sebelumnya akan bisa menjadi pertimbangan bagi pihak kejari dalam menentukan langkah selanjutnya. ”Apabila setelah dikeluarkan sprindik baru, pengembalian kerugian negara hanya menjadi pertimbangan yang meringankan saja,” tandasnya.

Sutrisno menjelaskan, pihaknya telah menemukan kuitansi fiktif berupa kuitansi penginapan di 6 hotel di Purwokerto. Hal tersebut diketahui setelah penyidik mengklarifikasi kebenaran kuitansi tersebut.

”Penyidik telah mendapatkan hasil setelah melakukan audit langsung ke lapangan. Diketahui kuitansi penginapan di enam hotel di Purwokerto tersebut fiktif. Jadi kuitansinya ada, namun pihak hotel tidak mengakui hotelnya digunakan. Jumlah kerugian sampai Rp 350 juta,” ujar Sutrisno, Senin (18/5).

Sementara itu, Ketua Tim Penyidik, Evan Satria menambahkan, 6 hotel tersebut meliputi hotel berbintang 4 hingga losmen. Ia menyebutkan, adanya kuitansi fiktif tersebut bersamaan dengan kegiatan Porprov di Purwokerto yang waktu itu digelar. ”Terkait perhitungan kerugian negara, kami melakukan perhitungan sendiri. Selain itu kami juga berdiskusi dengan tim ahli untuk melakukan audit tersebut,” imbuhnya.

Evan mengatakan kalau jumlah kerugian negara akibat dugaan korupsi dana hibah KONI tersebut saat ini berkisar Rp 1,3 miliar. ”Untuk pengadaan sekitar Rp 800 juta, untuk hotel yang kami periksa kemarin sekitar Rp 350 juta. Sisanya adalah untuk kegiatan-kegiatan. Semuanya diduga fiktif, kasus ini akan kami dalami lagi,” tandasnya. (bj/ric/ce1)