Pasar Dugderan Ditiadakan

179

BALAI KOTA- Menyambut bulan Ramadhan, masyarakat Kota Semarang selalu menggelar tradisi Dugderan. Namun tahun ini, perayaan Dugderan bakal terasa berbeda. Sebab, pasar Dugderan yang digelar selama sepekan sebelum memasuki puasa, ditiadakan. Kebijakan itu dikeluarkan Pemkot Semarang, karena mempertimbangkan kondisi Pasar Johar dan sekitarnya tidak memungkinkan untuk digelar pasar Dugderan.

“Kita sudah putuskan pasar Dugderan itu ditiadakan. Kondisi pedagang (Pasar Johar) belum tertata dengan baik, kalau buka pasar Dugderan satu minggu sebelum Ramadhan rasa-rasanya tidak pas. Pasti akan timbul gejolak (kalau diadakan pasar dugderan), maka kita tiadakan,” tegas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, kemarin.

Namun bukan berarti prosesi atau upacara Dugderan juga ditiadakan. Tradisi dugderan akan tetap digelar. Konsep perayaan juga akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. “Kalau untuk prosesnya karena sudah menjadi tradisi, tetap kita laksanakan. Hanya formatnya kita buat lebih sederhana, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hendi, sapaan akrab wali kota.

Terpisah, Kepala Bidaya Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Kasturi mengatakan, prosesi Dugderan tahun ini bakal berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Utamanya mengenai rute pawai. Titik perayaan tetap menggunakan halaman Balai Kota, Lapangan Simpanglima, dan di kawasan Masjid Kauman. “Tapi kita akan menghindari tempat-tempat yang sangat krodit. Nanti rommbongan dari balai kota akan dibelokkan ke Jalan Gajahmada. Sementara konsep kami seperti itu,” bebernya.

Kasturi mengklaim, perayaan tahun ini bakal lebih meriah. Utamanya perayaan di titik Simpanglima. Jika biasanya hanya menampilkan mobil-mobil hias, kali ini pawai mobil hias juga akan diikuti mobil-mobil yang membawa hasil pertanian. “Nanti hasil pertaniannya akan dibagikan kepada masyarakat. Itu yang menurut saya berbeda dan lebih meriah dari tahun sebelumnya,” tandas Kasturi. (zal)