BAGI KIAT: Tim dari Alfamart Cabang Semarang, memberikan pengetahuan tentang pentingnya manajemen dalam sebuah bisnis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAGI KIAT: Tim dari Alfamart Cabang Semarang, memberikan pengetahuan tentang pentingnya manajemen dalam sebuah bisnis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAGI KIAT: Tim dari Alfamart Cabang Semarang, memberikan pengetahuan tentang pentingnya manajemen dalam sebuah bisnis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Industri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) masih memerlukan pelatihan usaha. Contohnya saja tentang manajemen bisnis, penjualan hingga manajemen keuangan. Sebanyak 100 pengusaha UMKM, mendapatkan pelatihan dari Alfamart Cabang Semarang. Hal ini dilakukan agar UMKM yang ada di Semarang bisa lebih berkembang dan bisa meningkatkan kualitas produk yang dijual.

Member Relations Manager Alfamart Cabang Semarang, Sunarto, mengatakan jika UMKM yang sudah masuk dalam member Alfamart tercatat sebanyak 5.500 usaha. Usaha yang ada saat ini, dinilai masih kurang tentang pengetahuan display produk, hingga management keuangan. “Kebersihan dan display produk terkadang masih rancu, contohnya bahan makanan terkadang masih disandingkan dengan bahan-bahan kimia. Selain itu juga masalah display dan penataan produk pun kurang begitu menarik,” ujarnya, kemarin.

Penataan display sendiri, lanjut dirinya punya pengaruh besar terhadap ketertarikan calon pembeli. Managemen permodalan hingga keuangan pun diajarkan oleh pihak Alfamart cabang Semarang. “Manajemen keuangan diantaranya cara menghitung modal dan keuntungan. Member kami ajak untuk menggunakan pengalaman dari perusahaan retail, untuk mendatangkan stok barang yang digunakan,” tuturnya.

Selain itu, pihak Alfamart pun menggandeng pihak lain berupa perbankan untuk membantu modal para pelaku UMKM. Pembinaan pun dilakukan seminggu sekali, oleh tim dari Alfamart yang datang langsung ke tempat usaha UMKM para member. “Mereka bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya, jika menerapkan management secara benar,” pungkasnya.

Terpisah, Hermanto, pelaku UMKM yang kini berkembang yakni Agro Graha Mandiri mengungkapkan jika setelah mengukuti pelatihan, dirinya lebih memahami bagaimana mengatur keuangan bagi industri UMKM. “Terkadang, keuangan memang masih rancu yang tentu saja merugikan. Selain itu sisi dari display barang yang dijual tentu juga harus menarik,” tambahnya. (den/smu)