SEMARANG – Sebanyak 4.439 pecandu narkoba di Jawa Tengah akan direhabilitasi tahun depan. Menurut Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jateng, Susanto, saat ini baru 150 orang yang telah direhabilitasi. Target tersebut akan dilakukan melalui peran maksimal dari BNNK.

”Untuk BNNP memiliki wilayah sebanyak 2.605 untuk rawat inap rehabilitasi pecandu narkoba dan 118 untuk rehabilitasi rawat jalan. Beberapa daerah yang tergolong tinggi peredarannya antara lain Solo, Sukoharjo, Karanganyar, dan Kota Semarang,” katanya.

Meski tidak ingin menyebutkan peringkat kota maupun kabupaten, namun dari keterangan Susanto terdapat tujuh kabupaten dan kota di Jateng yang peredaran narkobanya tinggi. ”Namun strategi kita memang tidak membeberkan rangking 7 wilayah tersebut. Tujuan kita memetakan daerah tersebut adalah mengambil kebijakan lebih mudah,” lanjutnya.

Sementara itu, pelajar menjadi sasaran empuk bagi peredaran barang haram tersebut. Diterbitkannya buku pedoman Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) untuk jenjang SMP bertujuan untuk memberantas peredaran narkoba di kalangan pelajar. Sementara itu, keberhasilan dari P4GN ditentukan dari semangat dari seluruh komponen sekolah.

”Karena beberapa sekolah ada yang beranggapan dan menyepelekan hal itu. Eksemplar dari P4GN ini nanti akan kita serahkan ke dinas pendidikan sebagai laporan. Tingkat peredaran tingkat pelajar secara umum 22,7 persen. SMP di Jateng sudah termasuk lumayan. Jenis yang digunakan obat, narkotika, serta lem,” katanya.

Dia mengklaim, pengguna narkoba di tingkat sekolah khususnya di Jateng menurun jika dibandingkan tahun lalu. Hal itu diketahui melalui penelitian-penelitian. Namun menurutnya hal tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur.

Dia mengatakan kinerja penegak hukum yang didukung beberapa institusi sangat dibutuhkan. Modus-modus narkoba bisa menyasar sekolah yaitu dari beberapa orang yang datang ke alumni, kemudian dari alumni disebarluaskan ke anak-anak sekolah. ”Kebanyakan teman sebaya dahulu, yang awalnya dikasih gratis, kemudian disuruh bayar. Obat-obat pil koplo yang ringan-ringan dulu, nanti ke yang lebih tinggi.

Paling banyak jenisnya, psikotropika. Pecandu itu sifatnya hidden population. Pecandu kalau kita rehab tidak dihukum, dan dibiayai pemerintah. Narkotika jenis sabu di Indonesia 1 kilogram seharga Rp 2 miliar, oleh karenanya para penjual memilih Indonesia untuk sebagai ladang penjualan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo mengatakan peredaran narkoba di kalangan pelajar yang kini sudah sangat memprihatinkan dapat merusak karakter dalam diri siswa sendiri. Karenanya pihaknya telah menganggarkan sebesar Rp 1 miliar kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang guna menerbitkan buku tentang pembentukan karakter dalam diri siswa.

”Kita juga berharap dengan penganggaran itu nantinya dapat disinergikan dengan pedoman P4GN. Sehingga peredaran narkoba di kalangan pelajar ini bisa ditekan,” katanya. (ewb/ric/ce1)