NEKAT BERJUALAN: Para pedagang Pasar Johar nekat berjualan di sepanjang Jalan KH Agus Salim dengan menggunakan mobil setelah seminggu ini tidak ada penghasilan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
NEKAT BERJUALAN: Para pedagang Pasar Johar nekat berjualan di sepanjang Jalan KH Agus Salim dengan menggunakan mobil setelah seminggu ini tidak ada penghasilan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

JOHAR – Para pedagang korban kebakaran Pasar Johar yang mendapatkan berjualan dengan mobil di Jalan KH Agus Salim mengeluhkan ongkos tarikan yang dilakukan para juru parkir (jukir). Pasalnya, tarif yang dibanderol mencapai Rp 15 ribu setiap hari.

Pedagang pakaian, Widodo mengakui ongkos retribusi parkir yang dikenakan pedagang di atas mobil jauh di atas batas normal. Menurutnya, tarif retribusi tersebut sangat memberatkan pedagang dan terkesan dimanfaatkan oleh juru parkir setempat.

”Sudah dua hari ini saya membayar Rp 30 ribu. Hari Sabtu kemarin bayar Rp 15 ribu untuk jualan mulai pukul 08.00-17.00 sore. Padahal, tarif parkir hari biasa sebelum terjadi kebakaran paling hanya Rp 5 ribu per hari,” ungkap pedagang asli Semarang kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (17/5) kemarin.

Hal sama juga diungkapkan, Faizah. Meskipun dirinya berjualan di atas mobil, namun dirinya enggan membayar tarif retribusi. Menurutnya, tarif tersebut sangat mahal.

”Tadi pagi saya jualan di Stadion Diponegoro, terus jualan di tempat ini. Baru hari ini jualan dan belum laku sama sekali. Tapi sudah ditarik parkir Rp 15 ribu. Itu sangat mahal. Lebih baik saya tutup saja, tidak jualan nunggu lapak sementara jadi,” katanya.

Berbeda dengan Wawan, meski berjualan di atas mobil, dirinya tidak dikenakan tarif retibusi parkir dengan alasan warga setempat dan sudah saling kenal dengan juru parkir. ”Tadinya saya dagang pakaian, tapi sekarang jualan es di atas mobil. Kalau retribusi parkir tidak bayar, saya orang sini dan sudah kenal dengan tukang parkir,” terangnya.

Salah seorang pemilik toko di Jalan KH Agus Salim, Hidayat mengaku tidak terganggu dengan adanya pedagang mobil yang berjualan di sepanjang Jalan KH Agus Salim, meski tidak seharusnya digunakan berdagang. ”Kalau tidak di depan pintu tidak apa-apa. Tapi kalau berjualan di depan pintu, sangat mengganggu. Pasti saya peringatkan,” tegas pemilik toko Batik Kencono Ungu.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Pengaturan dan Ketertiban Pedagang, Dinas Pasar, Bahctiar Effendi menegaskan berjualan di atas mobil tidak diperbolehkan dan sangat melanggar peraturan. Pihaknya akan menindaklanjuti dengan melakukan penertiban.

”Berjualan di atas mobil, tidak diperbolehkan dan melanggar. Besok pagi saya akan menghubungi Kepala Pasar Johar untuk menindaklanjuti supaya ditertibkan. Apalagi pada lajur itu hanya untuk lalu lintas jalan dan tidak boleh digunakan untuk berjualan,” ujarnya.

Sedangkan dalam pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (17/5) kemarin di lokasi penampungan sepanjang Jalan KH Agus Salim, mulai dari samping Hotel Metro hingga perempatan Miranmar dijejali ratusan pedagang. Sedangkan, pada lajur sebelahnya disesaki parkiran kendaraan roda dua. Akibatnya arus lalu lintas jalan menjadi semrawut.

Pemandangan berbeda juga pada jalan KH Agus Salim sebelah timur dekat perempatan Bank Panin atau tepatnya di depan toko keramik Miranmar. Lajur yang seharusnya bebas dari pedagang, dimanfaatkan untuk berjualan dagangan dengan menggunakan mobil. Setidaknya ada 16 mobil yang digunakan jualan pada tempat tersebut hingga mengakibatkan kemacetan.

Sementara itu, kelompok yang menamakan dirinya Forum Selametke ParJo (Selamatkan Pasar Johar, Red) menggelar kampanye yang bertajuk Bangkit Johar. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Pahlawan Semarang pada Minggu pagi (17/5) kemarin mendapatkan sambutan antusias dari warga. ”Melalui kampanye ini, kami akan mengawal semua instansi terkait yang menangani pasca kebakaran Pasar Johar ini,” kata Koordinator Forum Selametke ParJo, Rukardi.

Dalam kampanye tersebut, katanya, ada 8 tuntutan yang diminta. Di antaranya menyampaikan keprihatinannya atas terjadinya kebakaran Pasar Johar Semarang. Kemudian meminta pihak berwajib menyelidiki penyebab kebakaran, meminta pemerintah menyediakan tempat relokasi sementara yang representatif untuk para pedagang. Selain itu, meminta pemerintah segera membentuk tim independen untuk menguji struktur bangunan pasca kebakaran serta mendorong pemerintah memulihkan dan mempertahankan bangunan cagar budaya Pasar Johar.

Selain itu, mendorong penggunaan anggaran pemerintah dalam pembangunan Pasar Johar tanpa campur tangan investor, meminta pemerintah melakukan penataan kembali pedagang dengan asas keadilan serta meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pasar dapat memperbaiki manajemen pengelolaan Pasar Johar.

”Sebagai masyarakat Semarang tentunya harus ikut mengawal proses ke depan agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Rencananya, Senin malam pihaknya akan melakukan pertemuan dengan pedagang Pasar Johar. ”Jadi akan kami kumpulkan pedagang dan memberikan bantuan serta membicarakan apa yang menjadi keinginan para pedagang pasca kebakaran,” katanya.

Selain melakukan kampanye, forum ini menyebarkan 5.000 stiker kepada masyarakat untuk menarik simpatik kepada warga lainnya. Bahkan mereka juga menyediakan kotak amal untuk diberikan langsung kepada para pedagang Pasar Johar Semarang.

Forum Selametke ParJo yang bersekretariat di Gedung Sobokarti, Jalan Dr Cipto 31-33 Semarang membuka bantuan kepada korban Pasar Johar melalui rekening Mandiri an. Ariana Oktavia 1360013234262 dan sms#BantuJohar#NamaAnda#Nominal Donasi# ke nomor 081326334420. (mha/hid/ida/ce1)