RITUAL: Sukerto menjalani prosesi mandi siram air tujuh sumber bercampur kembang setaman dalam ruwatan massal di Pendopo Notobratan Kadilangu, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RITUAL: Sukerto menjalani prosesi mandi siram air tujuh sumber bercampur kembang setaman dalam ruwatan massal di Pendopo Notobratan Kadilangu, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Setidaknya 225 sukerto atau penyandang aura kurang baik, kemarin, menjalani prosesi ruwatan massal bulan Rajab yang digelar Ahli Waris Kanjeng Sunan Kalijaga di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Jateng. Mulai dari Demak, Salatiga, Jepara, Kudus, Pati, Purwodadi, Semarang, Surabaya serta Sragen.

Banyakanya sukerto, menunjukan jika minat masyarakat untuk ruwatan cukup tinggi. Sebab, dari tahun ke tahun terus meningkat. Mereka yang ikut ruwatan dari kelompok golongan keluarga waris ada 91 orang, ontang anting 15 orang, uger-uger lawang 12 orang, kembang sepasang 4 orang, kedono kedini 13 orang, tali wangke 15 orang, sendang kapit pancuran 6 orang, pendowo lima 5 orang, selasa kliwon 5 orang serta sarono 59 orang. Sukerto tertua bernama Sabar usia 87 tahun dari Demak dan termuda Ulfiyan Nur Oventa umur 3 tahun asal Pati.

Ketua panitia ruwatan, H Suwadi mengatakan, tradisi ritual budaya terus digalakkan untuk ikut memberikan pemecahan berbagai persoalan hidup yang dihadapi para sukerto dari berbagai daerah tersebut. Ruwatan dipimpin Dalang Kondobuwono Ki Muharso asal Gabus Pati yang leluhurnya tercatat dari Keraton Ngayogjakarta (Jogjakarta). Kepiawaian dalam mendalang tersebut merupakan turun menurun dari keluarganya. “Ruwatan pada bulan Rajab ini memiliki banyak keistimewaan. Selain terletak dipertengahan tahun, bulan Rajab juga bagus untuk menjalani tirakat atau ikhtiar dalam memperbaiki diri,” kata Suwadi, kemarin.

Sebagaimana tradisi yang sudah berjalan, sebelum Ki Dalang Muharso memulai ruwatan dengan pertunjukan wayang itu, seluruh sukerto dikumpulkan duduk bersama di dalam Pendopo Notobratan. Pinggir tempat sukerto duduk telah dilingkari dengan tali lawe serta beras kuning. Ini sebagai perlambang atau simbol dalam ritual supaya tidak ada gangguan dalam proses ruwatan tersebut. Lakon dalam pewayangan tetap mengambil tema Murwokolo. Yakni, dari kata Hamurwo Betorokolo. “Artinya, bagaimana manusia itu bisa mengatur atau mengelola waktu dengan sebaik-baiknya supaya hidupnya tidak sia-sia,” imbuhnya.

Dalam ruwatan, para sukerto juga menjalani prosesi sungkeman kepada sesepuh ahli waris Kadilangu, Ki Dalang Kondobuwono dan panitia. Selanjutnya mereka mandi siram air tujuh sumber dan kembang setaman. Mereka disucikan. Setelah itu, rambut, kuku dan tali lawe yang dikenakan dipakaian sukerto dipotong. Ini sebagai tanda diambilnya sesuker atau aura kurang baik yang selama ini membelenggu sukerto. “Untuk rambut, kuku dan tali lawe yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan akan dilarung dilaut pada bulan Syawal mendatang,” tambahnya. (hib/fth)