SEMARANG – Pembangunan jalan tol Semarang–Batang sepanjang 75 kilometer yang tak kunjung terlaksana membuat DPRD Jateng gerah. Dewan mendesak agar pemerintah bergerak cepat dalam merealisasikan pembangunan. Sebab masyarakat yang memiliki lahan yang akan dipakai dalam proyek tol ingin mendapatkan kejelasan. Sebab, Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Semarang – Batang tersebut sudah diteken sejak 2006 silam.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Ferry Wawan Cahyono berharap ada percepatan pembangunan tol Semarang-Batang. Jika masalah ada di pembebasan lahan, harus ada terobosan agar masyarakat mau melepas. Apakah karena harga yang kurang cocok, ataukah memang pemerintah yang tidak bergerak. ”Kalau masalahnya di lahan, mestinya pemerintah bisa melakukan komunikasi yang bagus. Jadi warga dengan legawa untuk melepaskan tanahnya,” katanya, kemarin.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, jika komunikasi bagus, warga pasti tidak neko-neko. Apalagi, masyarakat sudah cerdas dan mengetahui jika pembangunan jalan tol bakal bermanfaat bagi masyarakat. Pembangunan tol Semarang–Batang ini harus diprioritaskan untuk bisa dimulai tahun ini. ”Presiden menginstruksikan agar pembangunan tol dikebut agar bisa menghubungkan seluruh wilayah Jawa. Jadi ini mestinya harus dibangun secepatnya, dan lahan segera dibebaskan,” imbuhnya.

Pembangunan tol Semarang–Batang merupakan bagian dari rangkaian tol Trans Jawa yang sudah diteken sejak 2006. Tapi sampai saat ini pembangunan mangkrak dan tidak ada kejelasan. Bahkan pembebasan lahan baru mencapai sekitar 5 persen. Sejumlah warga Batang yang lahannya dilalui tol waswas dengan tidak adanya kejelasan proyek pembangunan tersebut. ”Kalau memang investor tidak bisa merampungkan, ya cari perusahaan lain. Jangan kemudian dibiarkan saja jadinya tidak ada progres seperti sekarang,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso mengatakan, pembangunan tol Semarang–Batang sampai saat ini masih belum terealisasi. Berbagai kendala menjadi alasan terbengkalainya proses pembanguan tol tersebut. Salah satu pemicunya karena alotnya pembebasan lahan yang akan dilintasi jalur tol. Terutama lahan yang akan dijadikan jalan tol sebagian merupakan lahan milik Perhutani. Karena lahan milik Perhutani otomatis tidak boleh diganti rugi. Melainkan harus ditukar guling. ”Tukar gulingnya ini yang cukup repot. Karena harus 3 kali lipat dari lahan yang nantinya akan dilewati pembangunan jalan tol,” katanya.

Dia mengaku belum mengetahui pasti kapan pembangunan tol Semarang–Batang bakal direalisasikan. Rencananya pembangunan ruas jalan tol tersebut meliputi lima seksi. Yakni Krapyak – Kaliwungu sepanjang 10,10 kilometer, Kaliwungu – Kendal (15 kilometer), Kendal – Weleri (15 kilometer), Weleri – Batang Timur (31 kilometer), dan Batang – Simpang Susun (37 kilometer).

Selain itu, pembangunan tol itu masih terkendala investor. ”Sekarang masih dalam tahap pematangan detail engineering design (DED). Termasuk dengan kajian amdal dan proses pembebasan lahan. Mestinya ini jadi prioritas karena sudah mendesak dan memang masyarakat butuh,” tambahnya. (fth/ric/ce1)