KAUMAN – Setelah mendapat izin dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, ratusan pedagang kemarin (14/5) mulai menggelar lapak di sepanjang Jalan KH Agus Salim. Padahal Dinas Pasar Kota Semarang belum melakukan penataan pedagang yang bakal menempati ruas jalan tersebut. Pemkot sendiri mengizinkan pedagang berjualan di Jalan KH Agus Salim hingga H+7 setelah Lebaran. Sedikitnya 1.110 pedagang bakal menempati jalan tersebut.

Pantauan koran ini, ratusan pedagang seperti buah, pakaian dalam, seprai, dan minuman kemarin mulai memanfaatkan pinggiran Jalan KH Agus Salim untuk berjualan. Meski di sekitar kawasan tersebut masih semrawut oleh barang-barang milik pedagang yang terbakar, namun para pedagang tersebut tak menghiraukan.

”Iya, semua pedagang ringan sejak dua hari ini memanfaatkan pinggir Jalan Agus Salim buat jualan sementara sambil menunggu ditata oleh Dinas Pasar. Kemarin kita semua sudah ikut undian lapak kok,” kata Mini, pedagang buah.

Mini mengatakan, selama dua bulan pedagang akan menempati Jalan KH Agus Salim. ”Kita hanya diberi waktu dua bulan, kemudian direlokasi ke kawasan MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah),” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Rahmat, penjual pakaian. Untuk sementara ia memanfaatkan los di pinggir jalan buat jualan. ”Kalau yang punya toko di Pasar Johar rata-rata ada yang menyewa sementara di lantai 2 Gedung eks Matahari. Kalau yang di pinggir jalan, rata-rata losnya kecil-kecil,” ujarnya.

Sejumlah pedagang Johar yang lapaknya tidak terbakar tepat di pinggir Jalan KH Agus Salim kemarin juga mulai berjualan. Rata-rata kios mereka hanya mengalami kerusakan ringan.

”Ada beberapa pedagang yang aman kiosnya, di antaranya penjual kaus kaki, aksesori dan penjual buah. Mereka tidak ingin kehilangan momen, sehingga dalam situasi semrawut tetap jualan,” jelasnya.

Pemkot Semarang sendiri mengizinkan pedagang Pasar Johar untuk berjualan di Jalan KH Agus Salim hingga H+7 setelah Lebaran. Setelah itu, semua pedagang harus pindah ke pasar darurat di lahan milik MAJT. Deadline yang diberikan pemkot itu disepakati saat digelar dialog antara perwakilan pedagang, tokoh Pasar Johar dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi  di musala lantai II Pasar Yaik Johar, Kamis, (14/5) kemarin. Pemkot juga telah menyiapkan 4.719 lapak, air bersih, jaringan listrik dan akses jalan.

”Kalau ada yang tidak mau pindah setelah H+7 Lebaran, saya doakan dagangannya tidak laku,” ucap Hendrar Prihadi diamini para pedagang yang hadir dalam dialog tersebut.

Dalam dialog juga diputuskan, hanya satu jalur Jalan KH Agus Salim yang akan ditempati pedagang, yakni jalur kiri dari arah Jalan Pemuda mulai Metro hingga Kali Semarang. Hal itu untuk tetap menjaga stabilitas arus lalu lintas di sekitar Pasar Johar. ”Kita ambil jalur yang lebih lebar agar bisa menampung banyak pedagang,” katanya.

Tempat alternatif sementara lainnya, kata dia, bisa di gedung parkir Pasar Johar, Pasar Bulu, dan Pasar Rejomulyo. ”Nanti kalau masih ada yang kurang, akan ditempatkan di depan kantor Pos Besar Johar sampai sebelum Hotel Metro,” tambahnya.

Koordinator pedagang di Jalan KH Agus Salim, Mahmud, mengatakan, sepanjang Jalan KH Agus Salim akan ditempati 1.110 pedagang. Setiap pedagang akan mendapat lahan seluas 1,75 meter persegi.

Diakui, jumlah tersebut dipastikan bakal bertambah, lantaran masih banyak pedagang yang belum mendaftar di lokasi tersebut. Diperkirakan, pedagang sudah bisa menempati lapak di Jalan KH Agus Salim mulai Jumat (15/5) pagi ini.

”Sepanjang Jalan KH Agus Salim akan ditempati 1.110 pedagang yang terbagi menjadi 8 blok. Kami juga sepakat setelah Lebaran akan pindah di lokasi MAJT,” katanya.

Dijelaskan, untuk blok 1 akan ditempati pedagang Kelompok Unyil (pedagang tas dan sepatu) yang berjumlah 170 pedagang. Blok 2 akan ditempati pedagang Alun-Alun Utara-Selatan sebanyak 80 pedagang. Blok 3 akan ditempati kelompok toko Yaik sebanyak 35 pedagang. Blok 4 akan ditempati pedagang Yaik Timur sebanyak 150 pedagang. Blok
5 ditempati pesatuan pedagang dan jasa (PPJ) Matahari sebanyak 75 pedagang. Blok 6 ditempati pedagang Johar Utara, Tengah, Barat sebanyak 200 pedagang.  Blok 7 ditempati pedagang Johar Utara Bawah Dalam sebanyak 300 pedagang, dan blok 8 ditempati pedagang Pedamaran.

Seorang pedagang sepatu, Ngadiman, mengaku senang oleh kebijakan wali kota yang telah mengizinkan pedagang berjualan di Jalan KH Agus Salim. Sebab, pedagang lebih memilih mendapat relokasi sementara di lokasi yang berdekatan dengan Pasar Johar, meskipun ukuran lapaknya tak maksimal.

”Luas lapak hanya 1,75 meter persegi. Kalau dibilang cukup ya cukup, dibilang kurang ya kurang. Tapi, saya lebih memilih jualan di jalan ini ketimbang tempat lain. Tapi, kami belum mengetahui kapan tempat ini boleh untuk jualan, karena masih menunggu pembagian lapak dari ketua kelompok,” terangnya.

Pihaknya juga setuju jika nantinya pedagang akan direlokasi ke MAJT. Hanya saja, pihaknya berkeinginan supaya relokasi dilakukan secara serentak. ”Kalau serentak kan tidak menimbulkan kecemburuan. Harapan saya, lokasi itu secepatnya dibangun lapak. Selain itu, pemerintah juga secepatnya membangun kembali Pasar Johar. Supaya pedagang bisa berjualan lagi di Pasar Johar,” harapnya. (mha/aro/ce1)