SEMARANG – Masih adakah tradisi gotong royong di Jateng? Menjawabnya memang tidak mudah. Sebab modernisasi membuat masyarakat saat ini cenderung individualis dan segalanya diukur dengan uang. Namun hal sebaliknya bisa tergambar dari ratusan karya peserta Lomba Foto ”Rakyat Gotong Royong Jawa Tengah Berdikari” yang digelar Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermasdes) Jateng.

Tidak berlebihan rasanya bila ada ungkapan ”Foto Berbicara Lebih dari Seribu Kata”. Karya para peserta lomba yang digelar dalam rangka Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XII dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-43 tersebut bisa menggambarkan semangat gotong royong di masyarakat. ”Foto yang dikirim peserta memotret fakta yang sebenarnya bahwa tradisi gotong royong masih dijalankan sebagian masyarakat,” ujar Kasubid Pengembangan Sarana Prasarana dan Sosial Budaya Masyarakat, Bapermasdes Jateng, Purwandriyo di sela penjurian lomba di aula Bapermasdes Jateng, Rabu (13/5)

Foto karya fotografer Jawa Pos Radar Semarang, Nurchamim yang menjadi Juara 1 di kategori wartawan misalnya. Foto menggambarkan sekelompok nelayan yang bahu-membahu menarik perahu ke daratan. Atau karya Wibowo Rahardjo yang menjadi Juara 1 di kategori umum. Dia mengabadikan kerja bakti masal berbagai elemen masyarakat yang membersihkan enceng gondok di Rawa Pening.

Di samping itu, masih banyak foto lain yang mengabadikan aksi gotong royong masyarakat. Dari beramai-ramai menggotong kubah masjid, hingga para siswa yang rela belepotan lumpur menanam bibit mangrove.

Melalui karya foto para peserta, anggapan bahwa budaya gotong royong sudah luntur bisa terpatahkan. Seperti yang diungkapkan salah seorang panitia lomba, Elyta Very Wijaya. ”Saat kami sosialisasikan lomba ini melalui Twitter, ada yang mempertanyakan apakah masih ada tradisi gotong royong di Jateng. Melalui foto-foto peserta, setidaknya bisa menunjukkan gotong royong masih ada dan harus terus dilestarikan,” katanya.

Namun salah seorang juri, Chandra AN mengkritik, foto para peserta kebanyakan terjebak pada event, sehingga banyak karya yang subjeknya sama. ”Juri akhirnya mencari yang terbaik dari yang ada,” ungkapnya didampingi juri lainnya, Hadi Setiadharma dan Arifin Katili. (ric/ce1)