Promosikan Belimbing, Jambu Merah Delima, dan Belajar Pembuatan Kerajinan Batu Akik

99
PROMOSI: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR memberikan oleh-oleh buah belimbing dan jambu merah delima kepada Staf Ahli Bupati Banjarnegara Siswanto. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PROMOSI: Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR memberikan oleh-oleh buah belimbing dan jambu merah delima kepada Staf Ahli Bupati Banjarnegara Siswanto. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Setiap daerah memiliki potensi masing-masing untuk terus dikembangkan. Bila Demak mempunyai ikon buah belimbing dan jambu merah delima, maka daerah lain seperti Banjarnegara tengah mengembangkan potensi pembuatan kerajinan batu akik badar emas yang kini lagi booming di pasaran. Untuk mengenal satu sama lain tentang beberapa potensi itu, selama dua hari Kamis (7/5) hingga Jumat (8/5) lalu, Humas Pemkab Demak melakukan kunjungan kerja dan studi banding ke Banjarnegara. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Banjarnegara

BUAH belimbing dan jambu merah delima telah lama popular sebagai buah khas Kota Demak. Bahkan, dua jenis buah-buahan tersebut kini tidak sekedar menjadi penanda peningkatan kesejahteraan secara ekonomi bagi warga yang menekuni penanaman buah itu. Namun, buah yang sulit ditemukan di daerah lain ini kini juga mempunyai derajat yang patut dibanggakan. Sebab, dua buah warna kuning dan merah ternyata bisa menjadi alat komunikasi dan diplomasi yang cukup efektif dalam mempererat hubungan dengan daerah lain.

Karena itu, buah tersebut perannya sangat penting untuk mengenal eksistensi keberadaan Demak sebagai daerah penghasil buah-buahan. Alur sejarah juga telah membuktikan buah belimbing namanya meroket salah satunya berkat kepiawaian Sunan Kalijaga (Raden Sahid) saat menciptakan lagu atau tembang Ilir-ilir. Tembang itu bisa mengakomodasi budaya atau kearifan lokal untuk mengembangkan ajaran agama Islam ketika itu. Karenanya, tembang ini selain sebagai lagu dolanan juga lagu alat berdakwah.

Tembang itu mengandung nilai ajaran sufistik sangat dalam. Manusia dituntun agar mau mengendalikan hawa nafsunya supaya bisa meraih (buah belimbing). Yaitu, buah yang mempunyai lima irisan yang disimbolkan sebagai makna rukun Islam. Meski harus bersusah payah untuk mencapainya (licin), namun hati tetap harus bisa menggapainya. Ini supaya manusia bisa meningkatkan ketaqwaan pada Allah SWT dan selamat didunia maupun diakhirat.

Tembang itu secara lengkap berbunyi; Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir/ tak ijo royo-royo/tak senggoh penganten anyar. (Bangunlah, bangunlah, tanaman sudah bersemi dan menghijau seperti pengantin baru). Cah angon cah angon, penekno belimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro. (Anak gembala anak gembala, panjatlah pohon belimbing itu/ sekalipun licin tetap panjatlah untuk membersihkan bajumu). Dodot iro-dodot iro kintir bedah ing pinggir/ Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore. (Bajumu, bajumu sudah sobek disamping/ maka jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore). Mumpung padang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ yo surak’o surak hiyo (Mumpung bulan masih bersinar terang/ mumpung masih banyak waktu luang/ maka bersoraklah dengan sorak iya).

Selain belimbing, buah jambu merah delima juga telah membuat nama Kabupaten Demak dikenal luas. Meski demikian, dalam setiap ada kunjungan ke luar daerah maupun menerima tamu dari daerah lain, Pemkab Demak selalu berupaya terus mempromosikan dua buah tersebut. Saat studi banding di Banjarnegara misalnya, Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR dengan semangat untuk mengenalkan buah belimbing dan buah jambu merah delima tersebut. “Buah-buahan khas Demak ini mempunyai kandungan vitamin D dan mempunyai serat yang bagus untuk kesehatan. Karena itu, kalau bapak-bapak berkunjung ke Demak, bisa bawa oleh-oleh belimbing dan buah jambu merah delima ini,” kata dr Singgih saat memberikan sambutan dalam studi banding ke Banjarnegara.

Rombongan dari Pemkab Demak diterima Staf Ahli Bupati Banjarnegara, Siswanto, MSi. Sekda Pemkab Demak dr Singgih menambahkan, selain buah belimbing dan jambu merah delima, Kabupaten Demak sekarang memiliki keunggulan yang lain. Yaitu, betonisasi jalan. Menurutnya, dari 429 kilometer jalan kabupaten, 90 persen sudah dibetonisasi. Demikian pula dari 995 kilometer jalan pedesaan 99 persen juga telah dicor beton. “Karena susah mencari jalan yang mau dibeton lagi, maka jalan usaha tani dan jalan ke makam pun diperbaiki dengan betonisasi,” imbuhnya.

Sekda dr Singgih pun berharap masyarakat Demak tetap bangga dengan banyaknya kemajuan pembangunan di Kabupaten Demak tersebut. “Meski punya keunggulan, kita tetap belajar dari daerah lain seperti Banjarnegara ini yang telah menata jaringan kerja di SKPD dengan sistem e- office. Kita pun akan menerapkannya mudah mudahan bisa dimulai pada 2016,”katanya.

Turut studi banding ini, Asisten I AN Wahyudi, Asisten III Agus Supriyanto, Kabag Humas Pemkab Demak Daryanto, Kabag Hukum Ridhodin, Kabag Pembangunan Agus Musyafa, Kabag Umum Umar Surya, Kabag Orpeg Guvrin Heru Putranto, Kabag Perekonomian Suhasbukit, Kepala Dishubkominfo Agus Nugroho LP, dan pejabat lainnya. Selain belajar e-office, Pemkab Demak dalam studi banding tersebut juga belajar bagaimana mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang banyak digeluti masyarakat kalangan bawah. Bila di Banjarnegara, mengembangkan kerajinan batu akik, maka dengan studi banding tersebut, para perajin batu akik yang ada di Demak setidaknya juga makin bertambah. “Demak memang tidak punya bahan untuk buat batu akik, tapi paling tidak para perajin batu akik dapat tumbuh sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan,”ujar Asisten III Pemkab Demak, Agus Supriyanto.

Camat Purwareja Klampok, Banjarnegara, Gatot Yahya Setiadi mengatakan, setidaknya ada 12 kelompok perajin batu akik diwilayahnya. Mereka menekuni pembuatan batu akik jenis badar emas. “Batu-batunya yang diambil sudah tersedia di sungai sehingga tidak merusak lingkungan,”katanya. Batu akik hasil kerajinan warga tersebut dijual kepasaran antara Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta per biji. (*/fth)