KB-KB: Sejumlah kuli panggul Pasar Johar kemarin mulai dipakai jasanya menurunkan muatan milik pedagang yang sudah berjualan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KB-KB: Sejumlah kuli panggul Pasar Johar kemarin mulai dipakai jasanya menurunkan muatan milik pedagang yang sudah berjualan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kebakaran Pasar Johar, Sabtu (9/5) malam lalu, tak hanya menjadi pukulan berat bagi para pedagang. Tapi juga penjual jasa yang setiap hari menggantungkan hidupnya dari pasar terbesar di Jateng itu. Di antaranya, para kuli panggul. Bagaimana nasib mereka sekarang?

M. HARIYANTO, Kauman

TAK ada yang menyangka, Pasar Johar yang dihuni sedikitnya 8 ribu pedagang itu kini sudah luluh lantak diamuk di jago merah. Pusat bisnis yang banyak menjadi gantungan hidup warga itu kini sudah ludes. Sejak Sabtu malam, tak ada lagi aktivitas jual beli di pasar ini. Padahal setiap tengah malam, aktivitas bongkar muat barang selalu ramai. Hal ini tentu saja menjadi pukulan berat bagi para penjual jasa kuli panggul atau KB-KB.

Salah satu kuli panggul di Pasar Yaik Permai, Agus Widodo, 31, mengakui, sejak pasar terbakar, praktis dirinya sudah tidak punya pekerjaan lagi. Akibatnya, tak ada pendapatan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Menurut Agus, setidaknya ada 1.000 lebih kuli panggul di Pasar Johar. Para KB-KB itu memiliki kartu keanggotaan yang terdaftar di serikat pekerja buruh. Bahkan, mereka yang hendak bergabung dalam paguyuban kuli panggul ini harus membayar puluhan juta rupiah. Itu pun bisa bergabung, jika ada anggota yang mundur dan menjual keanggotaannya kepada orang lain.

Agus menuturkan, saat ini banyak kuli panggul yang memilih pulang kampung untuk sementara waktu. Sebab, jika tetap bertahan di Semarang, butuh biaya hidup yang tidak kecil. Padahal mereka sudah tak bekerja lagi pasca kebakaran Pasar Johar.

”Sebagian besar kuli panggul di Pasar Yaik Permai memilih pulang kampung. Kalau di sini tidak ada pekerjaan apa-apa. Apalagi belum ada kejelasan pedagang di sini mau pindah ke mana. Pemerintah belum memberikan informasi yang jelas tempat relokasinya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (12/5).

Dia mengaku, sudah menjadi kuli panggul sejak 2009. Setiap harinya, Agus mendapatkan penghasilan antara Rp 150 ribu-200 ribu. ”Bayaran per peti tergantung ukurannya. Ukuran kecil Rp 1.750 per peti, ukuran besar bisa sampai Rp 2 ribu per peti. Kalau setiap harinya tidak bisa dipastikan jumlahnya, tergantung kondisi kesehatan badan. Tapi kalau pas sepi ya paling tidak dapat Rp 50 ribu. Kadang tidak dapat hasil juga pernah,” terangnya sambil tersenyum.

Diakuinya, untuk bisa bekerja menjadi kuli panggul di kawasan Pasar Johar harus memiliki kartu anggota yang terdaftar di paguyuban dan SPSI. Kali pertama menjadi anggota kuli panggul di Pasar Yaik Permai, Agus mengaku harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah.

”Tahun 2009 saja saya beli kartu anggota dari orang lain yang sudah pensiun seharga Rp 31 juta. Itu di kawasan Yaik Permai sini. Kalau sekarang kira-kira sampai Rp 35 juta per orang. Bahkan kalau membeli keanggotaan kuli panggul di lokasi Jalan Pedamaran bisa lebih mahal lagi, mencapai Rp 150 juta per orang,” ungkapnya.

Dikatakan, di setiap kawasan Johar memiliki paguyuban kuli panggul sendiri. Jumlah kuli panggul yang terdaftar di Pasar Johar mencapai ribuan orang. Mereka terbagi dalam beberapa pekerjaan. Ada kuli muat, kuli bongkar, kuli menata barang, kuli los dan kios, serta kuli paketan barang. Di Yaik Permai, Yaik Baru dan los buah sendiri, jumlah kuli panggulnya mencapai 90 orang. Sedangkan rata-rata setiap paguyuban, minimal anggotanya mencapai 20 orang.

”Di Pedamaran ada 3 grup lebih. Belum di Yaik Permai, Yaik Baru, los buah, Johar Tengah, Johar Utara, Johar Selatan, dan Paketan. Kalau jumlah masing-masing saya kurang tahu. Tapi kalau dikalikan 2 shift pada masing-masing bagian muat, bongkar, menata siang dan malam, jumlahnya mencapai 1.000-an lebih. Bahkan kuli panggul dari Sragen saja hampir 300 orang,” ujar kuli panggul asal Sragen ini.

Ia mengakui, pasca kebakaran, banyak kuli panggul yang menganggur. Mereka juga bingung memikirkan nasibnya ke depan. Apalagi hingga kini belum ada kepastian tempat relokasi sementara bagi pedagang yang menjadi korban kebakaran.

”Ini saja sehari tidak bekerja. Belum ada pemasukan. Pedagang masih bingung tempat relokasinya. Pedagang sayur, buah dan kol biasanya bedampingan. Harapan saya pemerintah secepatnya mengatur tempat relokasi supaya pedagang segera bisa berjualan dan kuli panggul bisa bekerja lagi,” harapnya.

Hal sama juga diakui Parman, 63, kuli panggul lainnya. Setelah Pasar Johar terbakar, pendapatannya nihil. Ayah empat anak ini mengaku sudah 18 tahun menawarkan jasanya sebagai kuli panggul di Pasar Johar.
Sebagai kuli angkut barang di pasar, ia harus mengangkat barang yang beratnya sampai 70 kg setiap hari. Walau kini usianya sudah tidak muda lagi, sebagai kuli angkut, ia termasuk bapak yang kuat. Di umurnya yang semakin tua, ia masih mampu mengangkat barang-barang yang beratnya 70-80 kg.

Dibanding kuli panggul yang berusia muda, pendapatannya memang relatif lebih sedikit. Sehari, dia hanya mampu mendapat Rp 60 ribu. Bahkan terkadang hanya mendapakan uang Rp 15 ribu. Padahal ia bekerja sejak pukul 04.00 pagi. ”Itu belum dipotong dengan makan, tapi Alhamdulillah saya sudah bersyukur,” ujar Parman. Sejak Pasar Johar terbakar, praktis ia sudah tidak punya pendapatan lagi. Ia berharap, pemerintah segera memberi tempat bagi pedagang untuk berjualan. Dengan begitu, dirinya bisa bekerja kembali. (*/aro/ce1)
=