(ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
(ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Setelah mangkir dalam pemanggilan pemeriksaan pertama minggu lalu, mantan bankir Dyah Ayu Kusumaningrum (DAK) akhirnya memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai tersangka, Selasa (12/5) siang. Dyah Ayu datang ke Mapolrestabes Semarang sekitar pukul 10.00. Ia mengenakan jilbab putih dan baju panjang warna putih. Sampai di mapolrestabes, Dyah langsung menuju ruang penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polrestabes Semarang.

”DAK diperiksa sebagai tersangka. Agenda pemeriksaan Minggu lalu sempat tidak hadir, karena sakit. Dia melalui tim pengacaranya meminta penundaan pemeriksaan. Hari ini (kemarin), DAK telah memenuhi panggilan,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto kepada Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Selasa (12/5).

Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polrestabes Semarang, AKP Zaenul Arifin, mengatakan, pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran DAK dalam kasus raibnya deposito Kasda Pemkot Semarang Rp 22,7 miliar.

”Termasuk untuk mengetahui ke mana aliran uang deposito tersebut. Nanti kami kroscek ke PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Semuanya nanti akan muncul dan diketahui ke mana saja aliran dana tersebut,” kata Zaenul.

Pihaknya saat ini mengaku fokus memastikan dan memperkuat temuan unsur pidananya terlebih dahulu. ”Setelah itu, kami akan mengembangkan ke ranah TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Kami akan telusuri TPPU-nya, termasuk siapa saja penerima, untuk apa dan siapa yang memerintahkan tersangka,” ujarnya.

Namun demikian, hal itu belum bisa diketahui. Sebab, proses pemeriksaan tersangka masih berjalan. ”Mengenai ke mana aliran dana itu, kami masih mencari dan mengurai kasus yang masih menjadi misteri ini, supaya semuanya terang benderang. Yang jelas, kami komitmen untuk mengungkap kasus ini,” katanya.

Ditanya terkait temuan empat rekening misterius atas nama kasda pemkot yang dibuat 2012, di mana tidak ada satu pun pejabat pemkot yang mengakui siapa pembuatnya. Zaenul menjelaskan, pembuat empat rekening misterius atas nama kasda Pemkot Semarang itu adalah DAK.

”Uang kasda pemkot tersebut telah masuk ke bank. Setelah itu, terjadi penarikan-penarikan, lalu dipecah-pecah ke sejumlah rekening tadi. Atas perintah siapa? Nanti kita tunggu hasil pemeriksaan lengkap. Sedangkan dokumen-dokumen yang digunakan dipalsukan. Termasuk dokumen slip setoran dan dokumen penarikan,” bebernya.

Zaenul juga menyebut, tidak menutup kemungkinan muncul rekening-rekening lain yang dibuat oleh tersangka. ”Uang di empat rekening itu sekarang tak bertuan. Uangnya masih di bank, sudah kita blokir,” terangnya.

Menurutnya, inilah kehebatan tersangka DAK, yang pada waktu itu dia memang sangat dipercaya. Bahkan hanya dengan cara menelpon saja, ia dipercaya mengelola uang kasda Pemkot Semarang. ”Ketika sudah berada di Jakarta pun, DAK masih bisa menyetir keuangan tersebut,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku juga telah berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bagian gratifikasi. Sebab, nilai gratifikasi yang dilakukan berkali-kali, tentu saja kemungkinan nilainya besar.

Sejauh ini, pihaknya mengaku belum akan melakukan penahanan terhadap tersangka DAK. Alasannya, penyidik Tipikor belum memiliki bukti berapa kerugian negara secara pasti. ”Nanti kalau sudah ada bukti kerugian negara dari BPK, baru ada kemungkinan itu (penahanan, Red),” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini bahan-bahan masih berada di BPK. Pihaknya mengaku sudah melakukan ekspose bersama BPK. ”Kemudian kami kroscek ke tersangka, setelah itu kami koordinasikan lagi ke BPK. Perputarannya kan begitu. Ini baru pemeriksaan pertama sebagai tersangka, masih lama,” ujarnya.

Menurut Zaenul, sejauh ini DAK dinilai kooperatif. Panggilan minggu lalu tidak bisa hadir karena sakit. Tim pengacara memberitahukan kepada penyidik. ”Kemudian minta penundaan. Hari ini (kemarin) telah memenuhi panggilan. Pengacaranya ada 6 orang, yang hadir tadi 4 pengacara,” katanya.

Setelah diperiksa selama kurang lebih 8 jam, Dyah berjalan keluar didamping 4 pengacara setelah magrib. Ia hanya menutupi wajahnya saat dicegat sejumlah wartawan. Dyah masih enggan menjawab pertanyaan wartawan. Termasuk saat ditanya siapa saja pejabat pemkot yang terlibat kasus ini.

”Nanti ada saatnya (akan dibeberkan semuanya, Red). Tidak sekarang, nanti ada saatnya,” ujarnya singkat sambil buru-buru menuju mobilnya.

Salah satu kuasa hukum, Soewidji, tidak membantah, adalah skandal korupsi yang melibatkan sejumlah oknum pejabat Pemkot Semarang. Namun pihaknya tidak akan dibeberkan saat ini. ”Nanti saja,” katanya. Dalam pemeriksaan ini, tersangka menjawab sebanyak 22 pertanyaan. (amu/aro/ce1)