Tolak Radikalisme, Perkuat Jaringan Silaturahmi Santri dan Alumni

156
MEMBANGUN BANGSA: Ponpes Fathul Huda (kiri) dan Pengasuh Ponpes KH M Zainal Arifin Ma’shum (inzet). (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBANGUN BANGSA: Ponpes Fathul Huda (kiri) dan Pengasuh Ponpes KH M Zainal Arifin Ma’shum (inzet). (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
W
W

Ponpes Fathul Huda di Dukuh Karanggawang, Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung sejak didirikan pada 1958 oleh (alm) KH Ma’shum Mahfudzi memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ponpes ini terus berkiprah dalam mengabdikan diri dibidang pendidikan keagamaan dan pendidikan formal.

WAHIB PRIBADI, Demak

PONPES yang sekarang diasuh KH M Zainal Arifin Ma’shum ini bisa dikatakan terus berkembang pesat. Selain fokus pada pengajian kitab klasik (kitab kuning), ponpes dengan 3 ribu santri ini juga mengelola lembaga pendidikan formal berupa Pandidikan Anak Usia Dini (PAUD), Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) serta Madrasah Diniyyah (Madin).

Sedangkan, untuk kalangan orang sepuh diwadahi dalam lembaga khusus yakni, Jamiyyah Ahli Thoriqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman). Dalam Jatman ini, KH Zainal Arifin Ma’shum menduduki posisi sebagai Khatib Jatman wilayah Jateng dan Wakil Khatib Am Jatman untuk kepengurusan dilevel pusat atau nasional.

Pengembangan pesantren juga dilakukan para putra putri (alm) Kiai Ma’shum Mahfudzi lainnya. Diantaranya, Ponpes Ar Riyadh yang diasuh KH Lutfin Nadjib dan istrinya Ibu Nyai Hj Churun Chalina Silfia. Letak kedua ponpes yang diasuh kakak beradik ini saling berdekatan dalam satu kampung di Desa Sidorejo. Tidak hanya itu, untuk memperkuat jaringan pesantren ini, pengembangan serupa juga dijalankan para alumni senior. Mereka turut mengepakkan sayap mendirikan pesantren di daerah masing-masing. Antara lain tersebar di Pulau Jawa, Jambi (Sumatera Selatan), Kalimantan dan Papua.

KH M Zainal Arifin Ma’shum mengatakan, momentum Haul Al Masyayikh kali ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antara santri dan alumni. Haul ini untuk memperingati tiga kiai sekaligus. Yaitu, Al Masyayikh Al Maghfurlahum KH Ahmad Yasir (haul ke 75), KH Abdullah Rifa’i (haul ke 11) dan KH Ma’shum Mahfudzi (haul ke 10). Rangkaian haul sendiri diramaikan dengan Khatmil Quran bil ghoib dan bin nadhor, tahlil, serta prosesi wisuda santri dan pengajian akbar.

Jumlah santri yang diwisuda ada 191 orang. Terdiri dari 74 santri putra dan 117 santri putri. Mereka terbagi dalam khatam juz Amma, khatmil Quran bil ghoib dan bin nadhor. Menurut Kiai Zainal, haul tahun ini memiliki spirit khusus, yakni memperkuat silaturahmi sekaligus menolak gerakan radikalisme yang berkembang di masyarakat. “Kondisi bangsa sekarang banyak diwarnai gerakan radikalisme. Karena itu, dalam haul ini, kita terus membangun jaringan baik dengan santri maupun alumni. Melalui berbagai kegiatan, para santri dan alumni ikut menangkis berbagai gerakan radikalisme yang berkembang di masyarakat. Untuk menangkal gerakan radikal itu, maka langkah efektif yang kita lakukan adalah terus mendampingi para santri dan alumni tersebut. Jangan sampai mereka terpengaruh aliran radikal seperti itu,” kata Kiai Zainal didampingi santri seniornya, Taslim Arief, dikediamannya kemarin.

Ia menambahkan, gerakan radikal yang marak akhir-akhir ini patut diwaspadai. Sebab, gerakan tersebut sangat rawan menyebar di masyarakat. “Berdasarakan pengalaman selama ini. gerakan radikal semacam itu ternyata bisa memutus tali silaturahmi antara guru dengan murid dan antara anak dengan orang tuanya. Itu sangat bahaya,”ingat Kiai Zainal.

Untuk itu, Kiai Zainal dalam berbagai kesempatan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi para alumninya di berbagai daerah supaya tali silaturahmi dengan santri dan alumni tidak putus dan selalu terjaga. “Kalau alumni bersilaturahmi ke ponpes ini, maka sebaliknya saya pun berkeliling ke pesantren-pesantren yang didirikan alumni itu. Bahkan, para alumni inipun minta kita untuk dibantu guru ngaji. Kita pun bantu dengan mengirimkan santri kita. Sebelumnya, mereka kita latih dulu agar tidak canggung saat berkiprah di pesantren maupun di masyarakat. Kita bekali para santri ini selain mumpuni dalam bidang agama juga mampu dalam ilmu umum. Kedua ilmu itu harus dikuasai sehingga selamat dan sejahtera didunia dan akhirat sekaligus,”jelasnya.

Pengasuh Ponpes Ar Riyadh, KH Lutfin Nadjib mengatakan, pesantren yang didirikannya turut membantu perjuangan Ponpes Fathul Huda yang dipimpin kakaknya (Kiai Zainal Arifin), utamanya dalam mencerdaskan masyarakat. “Pada 2009, santri yang mengaji disini sekitar 5 orang. Sekarang sudah mencapai sekitar 100 orang santri. Kita bekali para santri dengan ilmu agama dan umum. Kalau ada santri yang mau menghafal Alquran, maka mereka minimal harus lulus dulu sekolah Aliyah atau Wustho. Dengan demikian, mereka bisa fokus dalam menghafal Alquran,”katanya.

Bu Nyai Churun Chalina Silfia menambahkan, para santri yang diasuhnya berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Demak, Sragen dan Jakarta. “Selain mengaji, santri juga sekolah formal,”imbuh Nyai Churun Chalina yang juga anggota DPRD Demak dari Fraksi PKB ini. (*/fth)