Pemprov Anggarkan Rp 9 M

149

SEMARANG – Pemprov Jateng menganggarkan lebih dari Rp 9 miliar untuk membuat pasar sementara sebagai tempat relokasi para pedagang Pasar Johar pasca kebakaran. Dana akan diambilkan dari pos Dana Tak Terduga yang memang disediakan khusus untuk membantu korban bencana.

”Sebenarnya kami masih menghitung jumlahnya berapa. Asumsinya Solo (Pasar Klewer) kemarin kami bantu Rp 9 miliar, mungkin ini (Pasar Johar) lebih sedikit,” ungkap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai melakukan pertemuan dengan pimpinan DPRD Jateng, Senin (11/5).

Ganjar menjelaskan, berdasarkan kunjungan dirinya bersama dengan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel diketahui bahwa pemerintah pusat tidak dapat terlibat dalam urusan pasar sementara. Sehingga tanggung jawab itu akan ditanggung pihak Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mengungkapkan dukungannya. Menurut dia, dalam hal ini pemprov wajib mengalokasikan bantuan pembenahan meskipun hal itu sebenarnya menjadi wewenang Pemkot Semarang. ”Saat ini tidak usah sempit memperdebatkan hal itu. Semua harus sinergi membangun pasar yang pernah menjadi terbesar se-Asia Tenggara itu,” terangnya.

Rukma menambahkan, relokasi pedagang harus segera dilakukan agar hidup mereka tidak terkatung-katung. Untuk lokasinya harus dipilih tempat yang memadai, strategis, dan mudah dijangkau baik penjual maupun pembeli. ”Tentu ini butuh dana yang besar. Dana Pemkot dan pemprov saja tentu tidak cukup. Oleh karenanya, pemerintah pusat juga harus ikut membantu. Karena biayanya mencapai beberapa T (triliun),” imbuhnya.

Terpisah, anggota DPD RI perwakilan Jateng, Bambang Sadono mengaku optimistis dalam pembangunan kembali Pasar Johar akan mendapat suntikan dana dari APBN. Pasalnya, ia telah melakukan diskusi dengan bidang Keuangan dan APBN agar lebih diprioritaskan lantaran hal tersebut menyangkut taraf hidup masyarakat banyak.

”Kemarin saya lihat dan berdiskusi kalau Pasar Johar jangan hanya mengutamakan pembangunan saja. Tapi bagaimana membantu para pedagang dengan memberikan modal bagi mereka. Sebab, banyak pedagang yang mengeluh barang dagangannya habis terbakar,” jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjut Bambang, perlu juga dipikirkan bagaimana solusi untuk mengembalikan modal tersebut. Terlebih bagi mereka yang tidak memiliki asuransi. ”Hal ini perlu dicari bersama bagaimana konsep penguatannya,” tandasnya. (fai/ric/ce1)