Pedagang Bahan Bangunan Tak Mau Stok Barang

103

SEMARANG – Harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak stabil dan kondisi rupiah yang fluktuatif terhadap US dollar, membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap bisnis bahan bangunan. Saat ini, para pedagang bahan bangunan enggan menyetok barang, lantaran takut rugi.

Lianni Tan, pemilik toko besi Subur Makmur di Jalan MT Haryono Semarang mengungkapkan, saat harga BBM yakni bensin premium mencapai Rp 8.500 per liter, harga bahan bangunan juga naik tajam. Namun saat pemerintah tiba-tiba membuat kebijakan penurunan harga BBM, ini membuat para pengusaha bahan bangunan yang sudah terlanjur membeli barang dari pabrik terpaksa harus menjual barang dagangannya dengan murah menyesuaikan harga pasar yang turun. Kondisi tersebut tentu membuat pedagang merugi.

Sebagai contoh harga semen di bulan Maret lalu harganya sekitar Rp 52 ribu per zak, dan di bulan Mei ini turun hingga Rp 50 ribu per zak. Bahkan untuk keramik putih ukuran 30 x 30 cm harganya dari Rp 42 ribu turun menjadi Rp 37 ribu ketika harga premium turun. “Dengan penurunan harga bahan bangunan yang sangat signifikan ini, kami memutuskan untuk tidak menyetok barang dari pabrik. Namun jika ada pemesanan kami tetap bisa melayani sewaktu-waktu,” ungkap Lianni.

Meski saat ini harga premium sudah ada di angka Rp 7.400 per liter namun geliat bisnis bahan bangunan belum membaik. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor sedikitnya order dalam jumlah besar dari para pemborong untuk proyek tertentu. “Tampaknya mereka yang akan membangun proyek tertentu masih wait and see,” terangnya. Oleh karenanya, para pengusaha bahan bangunan saat ini hanya mengandalkan pembelian barang yang dilakukan oleh masyarakat secara individu. “Prosentase pembelian bahan bangunan untuk keperluan individu berkisar 80 persen. Sedangkan untuk keperluan proyek saat ini antara 10 hingga 20 persen,” jelasnya.

Kondisi yang kurang menguntungkan bagi pengusaha bahan bangunan ini, diharapkan akan segera berlalu di Juni mendatang. Ini mengingat di momen jelang lebaran, biasanya banyak masyarakat yang beramai-ramai melakukan renovasi rumah. “Selain jelang lebaran, momen jelang natal biasanya omset penjualan bahan bangunan akan naik. Kenaikannya berkisar 20 persen dari omset bulan sebelumnya,” pungkasnya. (eny/smu)