DIKENAL RAMAH: Para mahasiswa asal Indonesia di Pakistan bersama Dubes RI Burhan Muhammad dan istri (nomor tiga dan empat dari kiri) saat acara memperingati Hari Ibu 2014. (kanan) Umi Salamah. (UMI SALAMAH FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKENAL RAMAH: Para mahasiswa asal Indonesia di Pakistan bersama Dubes RI Burhan Muhammad dan istri (nomor tiga dan empat dari kiri) saat acara memperingati Hari Ibu 2014. (kanan) Umi Salamah. (UMI SALAMAH FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)


Umi Salamah adalah mahasiswi Pascasarjana di International Islamic University Islamabad, Pakistan. Gadis asal Demak ini sempat bersama Dubes RI untuk Pakistan Burhan Muhammad dan istrinya, Hery Listyawati Burhan, sehari sebelum mengalami kecelakaan tragis. Kisahnya dikirimkan secara khusus ke Jawa Pos Radar Semarang.

UMI SALAMAH, Pakistan

DUKA menyelimuti para mahasiswa Indonesia di Pakistan pasca terjadinya kecelakaan helikopter MI-17 yang ditumpangi Bapak Burhan Muhammad dan istrinya Ibu Hery Listyawati Burhan. Mereka sekarang ibarat kehilangan induknya. Sebab, selama ini, Bapak Burhan dan istrinya dikenal sangat dekat dengan para mahasiswa yang sedang merantau menuntut ilmu di negeri Benazir Butho.

Saya yang kebetulan menjadi mahasiswi Pascasarjana di International Islamic University Islamabad, Pakistan cukup mengenal Bapak Burhan dan istrinya. Keduanya merupakan sosok yang mampu berperan sebagai orang tua kandung. Tempat bersandar sekaligus mengadu.

Dengan meninggalnya Ibu Hery, mahasiswa di Pakistan sangat kehilangan. Kami sebelumnya tidak menyangka, kecelakaan itu menimpa Bapak Dubes RI dan istrinya. Sebab, sore hari sehari sebelumnya, tepatnya pada Kamis (7/5), para mahasiswi sempat bertatap muka dengan beliau. Sore itu kami dengan semangat menunggu jemputan mobil dari KBRI. Kebetulan kami sedang mengadakan latihan tari daerah khas Indonesia untuk mempersiapkan acara ASEAN Food yang rencananya akan diadakan dua minggu lagi.

Setelah dijemput kendaraan dari KBRI, rombongan mahasiswa Indonesia akhirnya bertemu dengan Bapak Dubes dan istrinya. Setelah tiba di Aula Embassy Indonesia untuk Pakistan, para mahasiswa sempat kaget antara senang ketemu dengan keduanya, sekaligus sedih karena mereka merasa belum benar-benar siap untuk tampil dalam acara ASEAN Food.
Meski demikian, kita tetap menghampiri beliau serta berucap salam layaknya seorang anak ketemu dengan orang tua kandungnya. Saat itu, wajah Ibu Lilis -sapaan akrab Ibu Hery Listiyawati– begitu familiar dan senyum khasnya memberikan semangat tersendiri bagi kita yang merantau jauh dari keluarga.

Bertemunya para mahasiswa dengan Bapak Dubes dan istri membuat kami merasa tidak sendiri atau jauh dari keluarga. Karena beliau menganggap kami sebagai keluarga dan sosok anak yang membutuhkan naungan dari seorang ibu. Bapak Burhan pun sore itu menyambut kami dengan senyuman yang merekah, seakan-akan gembira dengan kedatangan para mahasiswi dan mengharapkan kami agar bisa membawa nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Beliau pun mempersilakan kami untuk berlatih, dan dengan semangat kami pun berusaha semaksimal mungkin menampilkan tarian daerah. Walaupun kami masih banyak kekurangan dalam latihan tersebut, tapi Bapak Burhan tetap memberi semangat dan kepercayaan bahwa mahasiswi bisa membawa nama baik Indonesia.

Canda tawa Bapak Burhan dan istrinya tersebut membuat mahasiswa semakin merasakan sosok orang tua yang sangat peduli, melindungi, dan ingin dekat dengan para mahasiswa yang berada di Pakistan. Meski yang bersangkutan sebagai Duta Besar RI untuk Pakistan, Bapak Burhan dan istrinya tetap terlihat sederhana, bersahaja, dan selalu memberikan contoh menjadi orang besar tetapi tidak melupakan kewajiban sebagai orang tua yang harus mendidik anak-anaknya dengan kemandirian, kesederhanaan, sopan santun, dan lain sebagainya.

Kini sosok Ibu Lilis telah dipanggil ke Rahmatullah. Betapa Allah sangat sayang pada hamba-Nya. Tepat pada hari baik dan mulia pada Jumat (8/5) lalu, musibah itu menimpanya di saat beliau berniat untuk menghadiri tugas negara. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Dan kitapun selalu berdoa untuk kesembuhan Bapak Burhan yang saat ini masih dalam proses perawatan, serta keluarga beliau selalu diberi kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi dan menjalani lika liku kehidupan. (*/aro)