Tinggi, Potensi Ekspor Herbal

125
PROSPEKTIF : Jajaran manajemen PT Phapros Tbk menunjukkan produk Antangin di sela-sela launching produk herbal di Museum Mandala Bhakti, Semarang, Rabu (8/5) malam. (Adityo dwi/jawa pos radar semarang)
PROSPEKTIF : Jajaran manajemen PT Phapros Tbk menunjukkan produk Antangin di sela-sela launching produk herbal di Museum Mandala Bhakti, Semarang, Rabu (8/5) malam. (Adityo dwi/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Tanaman obat atau herbal yang tumbuh subur di Indonesia menyimpan potensi pasar ekspor yang bisa diperhitungkan. Sayang, selama ini herbal masih sebatas bahan mentah yang dibeli perusahaan asing. Setelah diolah menjadi obat siap pakai, kembali diimpor ke Indonesia.

“Indonesia itu penghasil herbal nomor 2 setelah Brazil. Jadi prospek pengambilan porsi ekspor herbal sangat tinggi,” kata Direktur Utama PT Phapros Tbk, Iswanto di sela-sela launching produk herbal di Museum Mandala Bhakti, Semarang, Rabu (8/5) malam.

Pihaknya melanjutkan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga telah meriset tanaman obat jamu dengan menginventarisasi 15.773 ramuan dari 209 suku bangsa. Selain itu, juga mengidentifikasi 1.740 spesies tanaman obat dari 13.576 nama daerah obat.

“Dengan begitu, nilai ekspor produk herbal belum bisa menandingi ekspor migas atau komoditas ekspor non migas lainnya. Kinerja produk herbal over the counter (OTC) justru bertumbuh subur. Sekitar 14 persen di tahun 214 akibat permintaan konsumen akan produk alami,” paparnya.

Direktur Pemasaran Syamsul Huda mengakui, meski potensi pasar begitu besar, tapi memasarkan produk herbal di tengah kebiasaan konsumsi masyarakat terhadap obat kimia memang tidak mudah. “Tantangan kami adalah bagaimana mengedukasi masyarakat bahwa produk baru Antimo Herbal ini tidak sama dari Antimo tablet yang sudah terkenal sebelumnya. Varian anyar ini lahir untuk mencegah masuk angin. Bukan lagi mencegah mabuk kendaraan,” ungkapnya.

Ke depan, lanjut Syamsul, Phapros yang lebih dikenal sebagai produsen obat generik akan terus mengembangkan produk herbal dengan menggandeng beberapa pihak terkait yang berkompeten. Seperti perguruan tinggi, atau justru produsen obat herbal lain.

“Kami sudah bekerja sama dengan Jamu Jago untuk meriset herbal yang bisa digunakan untuk obat-obatan. Aliansi strategis ini akan terus berlanjut demi menciptakan inovasi dan memenuhi permintaan masyarakat yang terus bertambah,” pungkasnya. (hid/ric)