Terapkan Ilmu Alquran saat Jadi Penyidik Forensik

215
BEKAL AKHIRAT: Aiptu Wazir Arwani Malik saat mengajari santrinya ilmu Alquran. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BEKAL AKHIRAT: Aiptu Wazir Arwani Malik saat mengajari santrinya ilmu Alquran. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Aiptu Wazir Arwani Malik adalah salah satu penyidik forensik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng. Namun dia juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hadi Girikusuma, Mranggen, Demak yang memiliki 980 santri.

ABDUL MUGHIS

SAAT Aiptu Wazir Arwani Malik berseragam dinas polisi, tak menunjukkan sebagai seorang kiai. Namun di luar tugasnya sebagai aparat penegak hukum, Wazir Arwani Malik ternyata menjadi pengasuh Ponpes Al-Hadi Girikusuma, Mranggen. Dia termasuk sang pejuang pendidikan yang memiliki 980 santri.

Tak hanya pendidikan nonformal pesantren saja, Wazir juga mengelola yayasan pendidikan mulai tingkat RA/TK, MTs/SMP dan MA/SMA. Semua jenjang pendidikan itu masuk dalam Yayasan Al-Hadi yang dipimpin Aiptu Wazir.

Kesederhanaan Wazir menepis kesan di masyarakat umum bahwa profesi polisi itu ’miring’. Bahkan ia menjadi sosok manusia biasa yang menjadi panutan oleh masyarakat di sekitarnya. Tentu saja, kesibukannya setiap hari cukup padat. Sepulang bertugas sebagai penyidik forensik Ditreskrimum Polda Jateng, Wazir harus melanjutkan aktivitas mengajar di pondok pesantren.

Ia mengaku sudah terbiasa membagi waktu dua tugas berbeda yang masing-masing memiliki tanggung jawab berat tersebut. Namun berbekal keuletan dan keikhlasannya, Wazir melakoninya dengan segenap cinta. Bahkan selama bertugas, Wazir selalu menerapkan ilmu Alquran untuk bidang forensik.

Wazir membeberkan, forensik kepolisian bisa mengacu kepada Surat Yasin ayat 12, yang artinya: ”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

”Filosofi forensik kepolisian ya berdasarkan Surat Yasin ayat 12 itu. Alquran bukan untuk diritualkan, tapi menjadi petunjuk dan pedoman dalam kehidupan. Seperti halnya petunjuk untuk pengungkapan perkara dalam dunia kepolisian,” kata Wazir saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (7/5).

Dijelaskannya, Alquran memuat informasi tersebut sejak kurang lebih 1.500 tahun silam. ”Keilmiahan Alquran bisa saya buktikan dalam dunia forensik,” cetus pria kelahiran Demak, 28 Februari 1968 ini.

Pengetahuan ilmu Alquran yang ia kuasai sejalur dengan tugasnya sebagai penyidik forensik. Ia kali pertama memulai karir sebagai anggota polisi di Slawi, Tegal pada 1992. Kemudian dimutasi di Polda Jateng sejak 1993 hingga sekarang.

Bapak tiga anak ini mengaku, awalnya tidak memiliki cita-cita menjadi polisi. Bahkan ia tak menyangka saat namanya lolos diterima sebagai anggota Polri. ”Awalnya saya tidak suka menjadi polisi. Mendaftar anggota polisi karena dorongan dari keluarga. Sebenarnya ingin jadi anggota TNI AU, tapi gagal,” kenang Wazir sambil tersenyum.

Di awal sebagai anggota polisi, Wazir mengaku sempat galau dan terlintas pikiran ingin keluar dari anggota polisi. ”Waktu itu saya masih menganggap kesan polisi itu miring. Tapi setelah mengikuti pendidikan, saya tertarik. Apalagi dunia forensik sangat sinergi dengan Alquran,” ungkapnya.

Wazir pun tak gampang puas dalam berkarir. Kesuksesan bukan diukur menggunakan materi, tapi seberapa jauh kita berperan dalam sumbangsih aspek manfaat kepada masyarakat. Maka ia mengembangkan keilmuannya dalam bidang agama dengan mengelola yayasan dan pondok pesantren.

”Saya mengajar pada Sabtu, Selasa dan Kamis. Lebih konsen dalam proses belajar di sore dan malam hari. Biasanya, dinas polisi sudah free, kecuali kalau kondisi emergency yang bersifat mendadak,” ujarnya.

Wazir sejak kecil memang dibesarkan di lingkungan keluarga santri tulen. Sehingga memberikan pendidikan kepada para santri dianggap bukan pekerjaan, akan tetapi menjadi kewajiban. ”Saya mengajar ilmu agama sudah jauh sebelum menjadi polisi,” katanya.

Mengenai aktivitas mengajar, Wazir saat ini juga sering dilibatkan sebagai pengajar terbang di sejumlah Sekolah Polisi Negara (SPN), khusus materi Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan forensik umum.

Selama menjadi pengajar ilmu agama, Wazir mengaku tak berharap imbalan materi. Ia justru senang mengabdikan diri dengan menyebarkan ilmu secara gratis. ”Sama sekali tak mendapatkan gaji. Mengajar itu bukan bisnis, tapi murni perjuangan meneruskan cita-cita keluarga,” ungkapnya.

Sebagai perwira polisi, tak tampak kemewahan apa pun di sosok Wazir. Ia kesehariannya selalu tampil sederhana. Tak kepincut mobil mewah sebagaimana perwira polisi lain. Bahkan ia cukup damai berangkat dinas dari tempat tinggalnya di Mranggen Demak, mengendarai sepeda motor.

Sejauh ini, dia mengaku tak ingin memiliki mobil. Kesederhanaan baginya sebagai upaya tidak terhanyut arus hedonisme. ”Konsen dalam dunia pendidikan dan kepolisian secara benar saja sudah menjadi hal yang menyenangkan,” ucapnya.

Menurutnya, polisi agar bisa menepis anggapan miring di masyarakat harus bisa membuktikan benar-benar berperan sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat. ”Buktikan itu bukan retorika teoritik dan slogan yang terpampang di jalan-jalan semata,” tegasnya.

Seorang santri, Muhammad Lutfi Hakim, 16, mengaku bangga memiliki sosok panutan seperti Aiptu Wazir. Selain polisi, juga seorang kiai. ”Bapak kiai sebagai pengajar memang menarik. Beliau sering mengajar menggunakan media IT (teknologi informasi). Selalu mengenalkan aspek sains dan Alquran. Menerangkan bahaya narkoba misalnya,” kata siswa kelas X Madrasah Aliyah (MA) tersebut. (*/aro/ce1)