Prihatin Serabi Kalibeluk, Jadi Film Dokumenter Terbaik

78
DAPAT HADIAH : Perwakilan SMKN 1 Batang menerima hadiah dari Istri Bupati Batang, Budi Prasetyawati sebagai pemenang lomba Festival Film Pendek Pelajar dan Umum tingkat Karesidenan Pekalongan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DAPAT HADIAH : Perwakilan SMKN 1 Batang menerima hadiah dari Istri Bupati Batang, Budi Prasetyawati sebagai pemenang lomba Festival Film Pendek Pelajar dan Umum tingkat Karesidenan Pekalongan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Lantaran prihatin dengan hampir musnahnya makanan ringan khas Kabupaten Batang, Serabi Kalibeluk, sekelompok siswa pencinta film di SMK N 1 Batang, membuat film dokumenter. Film tersebut akhirnya menjadi pemenang lomba film dokumenter terbaik dalam Festival Film Pendek Pelajar dan Umum tingkat Karesidenan Pekalongan. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Batang

ADALAH Mentari Ayu, 16, pelajar kelas XI Multimedia SMKN 1 Kabupaten Batang bersama 10 teman sekelasnya, berusaha membuat film dokumenter tentang Serabi Kalibeluk. Setelah mendapatkan pemberitahuan adanya lomba membuat film dokumenter untuk pelajar dan umum dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Batang ke-49. Dengan peserta se-Karesidenan Pekalongan.

“Tema yang ingin kami angkat adalah makanan khas Kabupaten Batang yang terancam punah. Yaitu Serabi Kalibekuk. Dengan harapan, kalau kelak makanan tersebut sudah benar-benar tidak ada, masih ada film dokumenternya.” Kata Mentari, Kamis (7/5) kemarin.

Mentari juga mengatakan bahwa sebelum film dokumenter tentang Serabi Kalibeluk dibuat, dirinya bersama 10 rekan lainnya mengadakan kajian terlebih dahulu selama 4 hari. Ternyata pilihannya jatuh ke tema Serabi Kalibeluk. Selain menggunakan tema tentang kearifan lokal, Serabi Kalibeluk sendiri memiliki historis atau legenda yang melekat di masyarakat Batang. Yakni, terkait hubungan Raja Mataram dengan putri kejujuran.

”Film Serabi Kalibeluk kami buat selama 15 hari. Waktu selama itu, meliputi kajian hingga proses editing. Untuk shooting membutuhkan waktu sekitar tiga hari, dikerjakan 10 siswa. Penyuntingannya memerlukan waktu dua hari,” kata Mentari yang menjadi sutradara dalam film dokumenter Serabi Kalibeluk tersebut.

Ternyata upaya kerja keras yang dilakukan Mentari dengan 10 temannya tidak sia-sia. Film dokumenter Serabi Kalibeluk tersebut, berhasil menyingkirkan 64 karya film dokumenter lainnya. Menyabet juara I, sebagai film dokumenter terbaik. Selain mendapatkan tropi juara, piagam dan uang pembinaan, Mentari dan teman-temannya memiliki kebanggaan tersendiri. Lantaran karyanya mendapatkan apresiasi positif.

”Kami berharap bisa terus membuat film sebagai ruang eksplorasi. Ada tantangan tersendiri dalam membuat film. Apalagi kalau ikut dalam festival seperti itu. Ke depan, saya bersama teman-teman ingin berpartisipasi dalam festival-festival film yang digelar di beberapa daerah lainnya,” ujar Mentari.

Dalam setiap pembuatan film pendek atau dokumenter bersama teman-temannya, dia selalu mengedepankan tema kearifan lokal. Disamping untuk mengenalkan daerah, juga berbiaya murah dan mudah untuk dikerjakan.

Menurutnya setiap kali membuat film pendek atau dokumenter, dirinya tidak hanya mengirimkan untuk satu lomba dalam waktu yang bersamaan. “Yang sering kami diskusikan dengan teman dari lain sekolah, biasanya untuk pembuatan film pendek yang bertema sosial. Persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Film kemudian kami kirimkan pada festival-festivak film,” tandas Mentari.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Kesenian Daerah (DKD), Kabupaten Batang, Ahmad Zaenuri mengatakan bahwa pencinta film dari SMK Negeri 1 Batang memang telah sering membuat film dokumenter. Bahkan sering mengirimkan karyanya ke beberapa festival film baik tingkat Provinsi Jateng maupun nasional.

Menurutnya, untuk tingkat nasional, meski belum meraih juara, sering mendapat penghargaan sebagai film pendek atau film dokumenter favorit. “Dengan seringnya Kabupaten Batang mengadakan lomba pembuatan film pendek atau dokumenter, akan memunculkan sineas muda di Kabupaten Batang,” tutur Zaenuri. (*/ida)