Bahan Baku Mebel Kian Tipis

159
TAK HANYA MEBEL: Kain tenun asal Jepara, menjadi salah satu produk non-kayu yang dipamerkan dalam Jepara Expo yang berlangsung di Java Mall, Semarang. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TAK HANYA MEBEL: Kain tenun asal Jepara, menjadi salah satu produk non-kayu yang dipamerkan dalam Jepara Expo yang berlangsung di Java Mall, Semarang. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Jepara sangat dikenal sebagai produsen berbagai produk dari kayu. Namun saat ini, Pemerintah Kabupaten Jepara berupaya keras untuk menggenjot produk-produk dengan bahan non-kayu. Pasalnya, stok kayu sebagai bahan dasar produk mebel dan sebagainya kian menipis.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara Yoso Suwarno mengatakan, berbagai produk dengan bahan dasar non-kayu ini terus digenjot genjot produksi maupun pemasarannya agar semakin dikenal luas. Untuk pemasaran, Disperindag Jepara bekerjasama dengan Disperindag Provinsi Jateng, aktif menggelar pameran. Pihaknya berobsesi, produk-produk nonolahan kayu bisa laris manis layaknya meubel dan ukiran.

“Menipisnya stok kayu ini bukan hanya karena dampak regulasi SLVK. Karena di Jepara sudah ada 200-an pengusaha yang sudah mengantongi izin tersebut. Lagi pula, kami juga membuka klinik layanan pendampingan SLVK bagi pengusaha mikro kecil. Biayanya langsung dari kementerian,” ujar Yoso.

Pameran berbagai produksi asal Jepara dengan tajuk Jepara Expo ini berlangsung di auditorium Java Mal Semarang. Pameran ini menyuguhkan aneka produksi andalan Kabupaten Jepara termasuk masih mengandalkan mebel, serta aneka kerajinan. Tujuannya, selain untuk lebih mengenalkan produk-produk dari kota ukir tersebut, juga untuk membuka mata para investor bahwa Jepara layak sebagai daerah investasi.

Yoso Suwarno mematok transaksi mencapai Rp 2,5 miliar dalam pameran yang diikuti 50 stan ini. Target itu meningkat 20 persen dari total transaksi pameran yang sama tahun lalu. “Tahun kemarin diikuti 30 stan dan mencapai Rp 2 miliaran. Karena kali ini lebih banyak dan ikut dan waktunya lebih lama, paling tidak bisa mencapai Rp 2,5 miliar,” tegasnya.

Kepala Disperindag Jateng Prijo Anggoro menuturkan, Jepara mengambil porsi hingga 80 persen pemasok ekspor nonmigas di Jawa Tengah. Ini bisa jadi motivasi bagi daerah lain yang sebenarnya juga punya potensi. “Sementara Disperindag dan stakeholders akan memfasilitasi. Tidak perlu gengsi,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Anggoro juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih cinta terhadap produksi Indonesia. Pihaknya mengakui, masyarakat memang cukup bingung ketika ditawarkan aneka pilihan produk. “Lebih baik memilih yang berlabel SNI dengan standar ISO. Pilihan cerdas ini akan membantu para pengusaha lokal melebarkan bisnis mereka. Nantinya, jika sudah terbentuk iklim seperti itu, bukan hal mustahil jika Indonesia bisa menekan impor dan menaikkan ekspor. Apalagi ini sudah persiapan menghadapi pasar global MEA,” imbaunya. (amh/smu)