Tetap Ngompreng Saat Hari Libur Dewan

137
BUKAN SOPIR BIASA: Murdiyanto sedang mengemudikan angkot miliknya. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUKAN SOPIR BIASA: Murdiyanto sedang mengemudikan angkot miliknya. (FAIZ URHANUL HILAL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Pekalongan 2014-2019, Murdiyanto tak lantas meninggalkan profesi lamanya sebagai sopir angkutan umum. Ketika libur tugas, anggota Komisi A ini memanfaatkan waktunya untuk tetap melayani masyarakat. Seperti Apa?

FAIZ URHANUL HILAL, Kajen

SUDAH bisa duduk di kursi dewan dengan ruangan yang dilengkapi AC, tak lantas membuat Murdiyanto lupa dengan profesi lamanya sebagai sopir angkutan umum jurusan Sragi-Kesesi alias ngompreng. Pasalnya, sudah 12 tahun duduk di kursi kemudi angkutan umum yang mengantarkan dirinya menjadi anggota Komisi A DPRD Kabupaten Pekalongan 2014-2019.

Lantaran tugas kedewanan, Murdiyanto kini hanya bisa memanfaatkan waktu liburnya untuk tetap ngompreng. Kegiatannya ini, banyak mendapatkan pengalaman menarik. Tak jarang, para penumpang yang mengetahui dirinya anggota dewan, langsung terperanjat. Selain itu, ada suasana canggung, ketika bertemu dengan rekan seprofesi sopir angkot. Meski begitu, dirinya berusaha membangun keakraban. Karena dirinya juga tetap rakyat biasa dengan tugas tambahan mewakili rakyat.

“Mungkin sekarang kalau bertemu agak canggung. Karena dulu suka guyon, ngakak-ngakak bareng. Sekarang ya agak berkurang. Tapi tetap akrab,” kata warga Dukuh Ringin Pitu Kelurahan Sragi Kecamatan Sragi sembari tertawa.

Jika menjalani tugas kedewanan, maka dua armada angkot miliknya didedikasikan untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Terutama, para tetangga yang sedang sakit dan harus segera diantar ke rumah sakit maupun kepentingan lainnya. “Kalau ada warga yang minta tolong, saya sopiri sendiri. Senang sekali rasanya, kalau dapat membantu masyarakat,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Murdiyanto sadar, keberhasilannya menduduki jabatan sebagai anggota dewan, tak lepas dari pengorbanan masyarakat di daerah pemilihan (dapil) tiga. Yakni Kecamatan Bojong-Kesesi-Sragi. “Kuncinya keberhasilan menjadi anggota dewan adalah terbuka kepada masyarakat. Mereka sudah berkorban besar kepada saya,” ungkapnya dengan nada merendah.

Tak jarang warga atau tetangga rumahnya meminta tolong saat pukul 03.00 dinihari lantaran ada keperluan mendesak, maka Murdiyanto sendiri yang memberikan pelayanan langsung. “Pukul 03.00 maupun 04.00 dinihari, rumah didodok warga sudah biasa. Kadang ada tetangga yang sakit. Bagi keluarga saya, itu sudah konskuensi logis yang harus diterima,” jelasnya.

Pernah juga, saat melintasi jalur angkot, Murdiyanto sengaja dicegat warga di daerah Sragi, minta diantar ke rumah sakit. “Saat itu hari Sabtu, bulan lalu. Ada pasien Puskesmas yang harus segera dirujuk ke rumah sakit. Akhirnya saya antar ke Rumah Sakit Islam (RSI) Pekajangan,” paparnya.

Menurutnya, duduk di kursi dewan tak lantas menjadi tabir penghalang dengan lingkungan sekitar. Banyak keluhan terkait kebijakan pemerintah maupun kenakalan oknum yang kerap tak memihak masyarakat.

“Kini saya mengerti, asal muasal terjadinya konflik di masyarakat. Terutama di daerah pinggiran dan para sopir. Ini karena saya mengalami sendiri. Begitu juga di kalangan pemerintahan, bagaimana kebijakan dan imbasnya kepada masyarakat. Karena itu, saya berharap, apa yang saya lakukan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya. (*/ida)