KETERANGAN SAKSI : Sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan agenda pemeriksaan saksi, di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Rabu (6/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KETERANGAN SAKSI : Sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan agenda pemeriksaan saksi, di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Rabu (6/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Ada fakta menarik dalam sidang lanjutan Pembunuhan Guru SDN Kraton, Istanti, 26, yang sedang hamil di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan. Dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan dengan agenda pemeriksaan saksi, terdakwa utama Zaenal Mukorobin alias Robin yang didampingi kuasa hukumnya, Suyoto SH, saling bantah kesaksian dengan saksi Yusuf Aristianto, warga Poncol.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Masduki SH dengan didampingi dua hakim anggota, M Ichwanudin dan Indriani, keduanya beda pendapat terkait siapa yang menjual perhiasan milik korban ke pedagang emas jalanan di Jalan Hasanudin Kota Pekalongan, Rabu (6/5) lalu.

Ada tiga saksi yang diperiksa. Selain Aris panggilan Yusuf Aristianto yang merupakan teman terdakwa, dihadirkan pula Ahmad Azam, pedagang emas dan Yanuar yang mewakili pemilik kos, tempat korban dibunuh.

Azam dalam kesaksiannya menegaskan bahwa dirinya memang membeli emas dari pelaku saat malam hari. Sebenarnya, ada dua orang membawa motor mau menjual emas. Yang menjual Aris, satunya lagi saya tidak tahu karena mengenakan penutup muka. “Mas saya mau menjual ini, kemudian suratnya saya periksa. Terjadi tawar menawar. Aris mengiba kepada saya, katanya minta tolong untuk dibeli. Katanya untuk biaya istrinya lahiran di rumah sakit,” beber Azam kepada majelis hakim.

Kemudian emas dibeli dengan harga Rp 1,2 juta, yang terdiri atas satu kalung dan dua cincin emas muda seberat 8,5 gram. Karena ada surat-suratnya, harganya standar. “Kalau tidak ada suratnya, saya tidak berani beli,” katanya.

Azam juga mengaku hendak menjual lagi ke tokonya, biar mendapatkan untung lebih. “Saya sama sekali tidak tahu, kalau itu barang curian. Baru tahu setelah saya diperiksa polisi. Ternyata itu barang hasil kejahatan,” bebernya.

Saat majelis hakim mempertegas, bahwa siapa yang turun dari motor untuk menjual emas, kembali ditegaskan pula oleh Azam adalah saksi terdakwa Aris, bukan Robin terdakwa utama.

Sedangkan saksi terdakwa Yusuf Aristianto alias Aris, mengaku ikut menjual emas ke Azam saat malam hari pukul 17.50 sore. “Saya hanya diminta menjualkan motor. Saya tidak ikut turun dari motor saat jual emas. Cuma perantara menjual motor. Dijual ke mas Iwan yang datang ke rumah. Tapi digadai, awalnya mau dijual ke saya. Tapi saya tidak punya uang,” tegasnya.

Dirinya juga bilang, Robin mengaku, motor tersebut milik pacarnya dan tidak ada surat-suratnya. Dirinya cuma dapat komisi Rp 200 ribu dari hasil gadai motor sebesar Rp1,5 juta ke Iwan.

“Robin saat ke saya sudah membawa motor dan laptop. Sorenya pada Sabtu, menjual emas. Kemudian malam harinya menjual laptop ke Toha pukul 23.00 malam. Saya ikut, tapi menunggu di luar, tidak ikut ketemu Toha. Setelah dapat uang muka dari Toha, langsung diajak ke lokaliaasi naik motor korban. Awalnya ke Batang minum-minum. Baru pindah ke Kajen main perempuan,” ungkapnya.

Aris kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pekalongan, Imam Fauzi, mengaku kenal korban 1 tahunan dan sering main bareng. Saat kembali ditegaskan siapa yang turun dari motor menjual emas, Aris berani bersumpah kalau yang turun adalah Robin bukan dirinya. Bahkan saat dirinya diancam dengan UU memberi keterangan palsu, Aris ngotot bahwa yang turun adalah Robin bukan dirinya.

Sedangkan kesaksian Yanuar terungkap bahwa kos yang dikelolanya ada lima kamar. Satu kamar kosong, kamar 2 dihuni Vita, kamar ke 3 di huni korban Tanti dan kamar ke 4 di huni Afan. “Saya juga tidak mengenal terdakwa juga belum pernah melihat. Kalau ada penghuni baru, pasti melapor ke saya. Terakhir yang laporan Mas Afan, dirinya baru masuk satu minggu sebelum kejadian,” terang penjaga kos tersebut. Setelah kesaksian tersebut, sidang kembali ditunda hari Rabu, 13 Mei mendatang. (han/ida)