AKULTURASI BUDAYA : Mahasiswa Papua bersama warga Salatiga melakukan ritual membakar batu sebagai tanda perdamaian dengan warga Salatiga di halaman kantor Satlantas Polres Salatiga Rabu (5/6) kemarin. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKULTURASI BUDAYA : Mahasiswa Papua bersama warga Salatiga melakukan ritual membakar batu sebagai tanda perdamaian dengan warga Salatiga di halaman kantor Satlantas Polres Salatiga Rabu (5/6) kemarin. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Jajaran Polres Salatiga bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Papua Barat (HIMPPAR) menggelar ritual bakar batu di halaman kantor Satlantas Polres Salatiga, Rabu (5/6) kemarin. Ritual tersebut menandai adanya perdamaian antara mahasiswa asal Papua dengan masyarakat Salatiga.

Menurut Ketua HIMPPAR, Donius Tabuni, mengatakan bahwa ritual tersebut adalah budaya Papua yang berarti tanda perdamaian antarsuku. Namun ketika digelar di Salatiga dijadikan sebagai pertanda perdamaian antara mahasiswa Papua dengan masyarakat Salatiga. Sekaligus menghapus adanya stigma negatif tentang mahasiswa Papua yang dianggap kerap membuat keributan di Salatiga.

“Saya mewakili mahasiswa Papua, meminta maaf jika selama ini ada penilaian warga bahwa mahasiswa asal Papua tidak taat hokum, beberapa mahasiswa sering ngutang di rental dan warung makan,” kata Donius di hadapan Kapolda Jawa Tengah, Kapolres Salatiga, Dandim dan Wakil Wali Kota Salatiga, di halaman kantor Satlantas Polres Salatiga Rabu (5/6) kemarin.

Kendati begitu, katanya, yang sering membuat onar selama ini, bukan mahasiswa Papua yang berdomisili di Salatiga. Melainkan yang datang dari luar kota, kemudian mabuk dan membuat marah warga. Karena itu, dengan dibacakan pengambilan sikap ini, dirinya bersama mahasiswa Papua lain berjanji tidak akan membuat onar lagi. “Jika ada oknum yang membuat keributan, kami siap ditindak dengan hukum dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat Salatiga,” ujarnya.

Kapolres Salatiga, AKBP Ribut Hariwibowo menyatakan bahwa warga tidak perlu lagi menolak pembangunan asrama ataupun mendiskreditkan mahasiswa Papua. Karena mereka juga warga Indonesia yang perlu dibina. Jika selama ini, perbedaan budaya menjadi masalah mendasar, maka perlu dilakukan pembinaan dan pembelajaran tentang adat istiadat Jawa. “Sehingga ada akulturasi budaya yang positif,” harapnya.

Pihaknya mengaku bersama Pemkot Salatiga sudah bertemu sebanyak empat kali dengan mahasiswa Papua dan Pemerintah Papua Barat di Salatiga. Di antaranya, untuk melakukan diskusi dan solusi agar tidak ada lagi mahasiswa yang meresahkan masyarakat. “Saya berharap, acara ini bisa memulai hubungan positif antara mahasiswa dengan masyarakat Salatiga,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolda Jateng Brigjen Pol Nur Ali yang sebelumnya mendapat penyematan tanda kehormatan sebagai keluarga baru etnis Papua, menyambut positif kegiatan ritual bakar batu tersebut. Agar bisa menjadi contoh bagi wilayah-wilayah di Indonesia yang tidak bisa menyatukan warga lokal dengan warga Papua, sehingga ujung-ujungnya terjadi cekcok dan baku hantam antarwarga tersebut.

“Kegiatan ini bisa diangkat sebagai program yang patut diadopsi oleh instansi lain yang sulit menyatukan warga daerah asli dengan pendatang (Papua, red). Pendekatan budaya seperti ini sangat efisien dan lebih ramah,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota, Muh Haris, berjanji akan terus menjaga kondusivitas perbedaan etnis dan suku di Salatiga. “Saya akan terus mendukung program yang baik demi menjaga kedamaian di Salatiga,” pungkasnya. (abd/ida)