DIBANTU: Siswa SMPLB YPAC yang hanya seorang diri mengikuti unas, tengah dibantu menebalkan jawaban di LJUN, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBANTU: Siswa SMPLB YPAC yang hanya seorang diri mengikuti unas, tengah dibantu menebalkan jawaban di LJUN, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBANTU: Siswa SMPLB YPAC yang hanya seorang diri mengikuti unas, tengah dibantu menebalkan jawaban di LJUN, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Seorang siswi di SMPLB-D Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang mengikuti ujian nasional (Unas) seorang diri. Siswi bernama Safira Millenia yang merupakan penyandang tunadaksa tersebut menjadi murid pertama YPAC yang mengikuti unas.

Ini merupakan kali pertama YPAC Semarang mengikutkan siswanya DALAM Unas. Berbeda dari siswa-siswa yang ada di YPAC lainya I-Q Safira cukup tinggi sehingga dia diikutkan dalam unas tahun ini. Meski begitu, Safira masih perlu dibantu dalam melingkari dan menebalkan Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN).

Kepala YPAC Semarang, Suprayitno mengatakan bahwa Safira memiliki kemampuan motorik yang rendah sehingga dia kesulitan dalam melingkari jawaban di LJUN. Meski seorang diri, Safira terlihat fokus dalam mengerjakan setiap butir-butir soal dalam unas.

”Pelaksanaan unas cukup baik, berjalan dengan lancar, hanya saja waktu menjawab atau mengisi LJUN, karena motoriknya kurang begitu bagus jadi harus dibantu oleh petugas. Tapi dibantu dalam arti kata hanya untuk menebalkan, tidak membantu menjawab,” ujar Suprayitno, Rabu (6/5).

Dijelaskannya, jika Syafira tidak dibantu menebalkan jawaban di LJUN, dikhawatirkan dalam melingkari jawaban tidak dapat maksimal serta tidak terbaca di mesin pemindai LJUN. Terkait persiapan, sebelumnya pihak sekolah sudah memberikan pelatihan soal. ”Kalau kesiapannya sebetulnya anaknya itu sudah disiapkan jauh sebelumnya dan untuk latihan pengisian LJUN pun juga sudah dilaksanakan. Tetapi ya itu karena anak itu punya kendala utamanya motoriknya kurang begitu bagus tetap harus kita bantu utamanya dalam menebalkan jawaban,” katanya.

Safira sendiri mengaku telah melakukan banyak latihan menjawab lembar LJUN. Akan tetapi tetap saja tidak bisa menghitamkan lingkaran LJUN dengan benar. Meski telah belajar keras setiap hari, Safira mengaku soal unas kali ini agak sulit baginya. ”Alhamdulilah bisa mengerjakan. Memang soalnya sedikit susah susah. Karena beberapa memang belum saya pelajari. Persiapannya paling ya belajar setiap usai salat Subuh. Selain itu juga belajar di sekolah dan membaca-baca buku,” kata Safira.

Sementara itu, dari hasil pantauan yang dilakukan Komisi D Kota Semarang, siswa banyak yang merasa kesulitan ketika mengerjakan soal unas bahasa Indonesia. Meski dalam praktik pembelajaran sehari-hari indikator mata pelajaran sudah diberikan namun siswa masih merasa kesulitan.

Menurut Wakil Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo, hal itu dikarenakan dalam butiran soal unas tersebut siswa merasa terkecoh akibat banyaknya jebakan terkait dengan EYD.

”Dalam butiran soal yang terkait membedakan tata bahasa mereka (siswa) juga merasa kesulitan. Apalagi dengan beberapa tipe soal yang terkait ketelitian dalam EYD mereka juga merasa kesulitan dalam mengerjakan soal. Justru siswa lebih mudah dalam mengerjakan soal bahasa Inggris. Karena tipe soal dalam unas banyak yang sudah diajarkan dalam bimbel yang mereka ikuti,” tutur Anang. (ewb/zal/ce1)