SEMARANG – Bank Indonesia terus mendorong pertumbuhan sektor-sektor potensial di Jawa Tengah. Salah satunya dengan mengembangkan berbagai klaster di provinsi ini. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Iskandar Simorangkir mengatakan, Jawa Tengah memiliki potensi yang luar biasa. Penanganan yang serius sangat diperlukan guna menggali dan mengembangkan potensi-potensi tersebut.

“Kita ingin buktikan sekaligus juga berikan contoh pada masyarakat, jika suatu sektor digarap dengan serius, pasti bisa berhasil,” ujarnya, kemarin (5/5). Salah satu contohnya adalah klaster padi organik di Kabupaten Semarang. Areal persawahan yang semula hanya dapat menghasilan 4-5 ton per hektare nya, kini area persawahan tersebut setiap panen dapat menghasilkan rata-rata 8 ton.

Termasuk halnya dalam pengolahan pasca panen. Dengan metode konvensional, banyak padi yang terbuang selama proses panen. Setidaknya sekitar 10 persen – 20 persen padi yang terbuang. Setelah dibantu dengan penggunaan mesin, padi yang terbuang pasca panen dapat diminimalisir.

“Selama proses memanen dengan cara konvensional mulai dari padi disabit pasti ada yang jatuh, kemudian tahap selanjutnya juga memungkinkan akan ada yang terbuang. Itu kan sayang, dari situ kita bantu dengan mesin,” ujarnya.

Penggunaan mesin ini juga sekaligus menjawab kendala di sektor pertanian. Yaitu keluhan-keluhan dari komunitas tani yang menyebutkan bahwa saat ini mereka kesulitan mencari tenaga di sektor pertanian, karena sudah terjadi peralihan tenaga kerja ke sektor industri.
“Dulu ada yang sempat tanya, mekanisasi tenaga pertanian ini akan menyebabkan banyak tenaga yang menganggur. Sebetulnya tidak, karena sektor pertanian ini juga kesulitan mencari tenaga, sebagian sudah beralih ke industri,” ujarnya.

Selain padi organik, Bank Indonesia juga terus mengembangkan klaster lain. Diantaranya klaster sapi yang dikelola dari hulu ke hilir, klaster air tawar dan sejumlah klaster lain untuk percontohan daerah-daerah lain. (dna/ric)