Ganjar Bela Direktur yang Dicopot

104

“Tidak mungkin tidak bersalah karena (kasusnya) satu paket dengan SW (Susanto Wedi, mantan Pimpinan Cabang Utama Bank Jateng) yang telah menghuni jeruji besi,”

Eko Haryanto
Sekretaris KP2KKN Jateng

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan bahwa pencopotan dua Direktur Bank Jateng dari jabatannya pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Jateng baru-baru ini murni terkait evaluasi. Menurutnya, Direktur Operasional Bambang Widiyanto dicopot lantaran mengundurkan diri. Sementara Direktur Pemasaran Agung Siswanto diberhentikan karena kinerjanya yang tidak sesuai kontrak kerja.

”Tidak (terkait kasus). Ada beberapa hal yang disampaikan dalam rapat tersebut. Sebagai tindak lanjutnya, kami langsung membuka rekrutmen untuk direktur yang baru,” ungkapnya usai melantik sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah yang dirotasi, Rabu (6/5).

Ganjar menjelaskan, pihaknya saat ini telah menyiapkan tim panitia seleksi (Pansel) untuk menentukan siapa yang terpilih menjadi direktur baru. Menurutnya, proses seleksi ini membutuhkan aturan khusus yang mendalam lantaran terkait perbankan. ”Sepertinya ada biro khusus renumerasi atau apa yang menyeleksi. Nanti yang ngecek dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) langsung,” imbuhnya.

Disinggung mengapa baru dilakukan pencopotan saat ini padahal Bambang Widiyanto diketahui telah ditetapkan menjadi tersangka atas dugaan korupsi kasus pengadaan aplikasi Core Banking System (CBS) Bank Jateng tahun 2006 senilai Rp 35 miliar, Ganjar berdalih bahwa yang bersangkutan hingga saat ini belum ditetapkan sebagai terdakwa. ”Malah saya dengar (telah dikeluarkan) SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara),” terangnya.

Kendati demikian, Ganjar membela jika kinerja Bambang Widiyanto selama ini baik. Terbukti perkembangan Bank Jateng selalu mengalami peningkatan dan menjadi lebih baik. ”Memang akan selalu dipertanyakan orang. Tetapi sekarang kalau sudah mundur berarti sudah selesai. Saya menghormati beliau mengundurkan diri,” tandasnya.

Terpisah, Sekretaris Komite Penyelidikan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah Eko Haryanto mengaku tidak lantas percaya dengan pernyataan bahwa Bambang Widiyanto dicopot lantaran mengundurkan diri. Menurutnya, tentu ada tekanan dan paksaan dari sejumlah pihak.

”Tapi itu justru menjadi bagus. Yang jadi pertanyaan kenapa pencopotan itu tidak dilakukan sejak dulu ketika ditetapkan menjadi tersangka. Adapun pencopotan lantaran kinerja yang tidak memuaskan itu adalah wewenang pengelola. Tapi kenapa dilakukan secara tiba-tiba, itu juga harus dijelaskan,” bebernya.

Eko menegaskan bahwa Bank Jateng adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov di mana pengelolaannya harus transparan kepada publik. Jika memang Bambang Widiyanto diketahui mengundurkan diri maka harus ditunjukkan surat pengunduran dirinya. Sementara penilaian atas kinerja Agung Siswanto yang tidak memuaskan harus dijelaskan hal-hal yang menjadi indikatornya. ”Bisa jadi lantaran melakukan penggelapan uang dan lain sebagainya. Itu sangat mungkin,” imbuhnya.

Disinggung status hukum Bambang Widiyanto saat ini, Eko menjelaskan bahwa kasus yang bersangkutan belum SP3. Hal itu ia dapatkan dari penjelasan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah yang menangani kasusnya. ”Kami terus mendesak untuk dilanjutkan sampai persidangan. Tidak mungkin tidak bersalah karena (kasusnya) satu paket dengan SW (Susanto Wedi, mantan Pimpinan Cabang Utama Bank Jateng) yang telah menghuni jeruji besi,” pungkasnya. (fai/ric/ce1)