Siswa Gaduh, Waryono Akui Lempar Sepatu

75
SIDANG GURU : Terdakwa Waryono, 40, oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang kembali menjalani persidangan di PN Pekalongan, Selasa (5/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG GURU : Terdakwa Waryono, 40, oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang kembali menjalani persidangan di PN Pekalongan, Selasa (5/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Sidang kasus pelemparan sepatu kepada muridnya dengan terdakwa Waryono, 40, oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang, kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Selasa (5/5) kemarin. Dengan agenda mendatangkan saksi-saksi korban, teman korban dan keluarga korban.

Dalam persidangan, terdakwa mengakui sengaja melemparkan sepatu kirinya ke kerumuman siswa kelas 2 yang sedang diajarnya. Kejadian pada 20 Februari 2015 sekitar pukul 08.00 tersebut, terjadi di ruang kelas 2A, SD Kandang Panjang 10 Pekalongan Utara.

Pada awalnya, korban berbuat gaduh saat pelajaran berlangsung di kelas dengan memukul-mukul meja. Melihat hal tersebut, tersangka emosi dan mengingatkan korban. Lalu mengambil sepatu kanan dengan tangan kiri dan dilemparkan dengan tangan kanan ke korban. Tujuannya, agar tidak berbuat gaduh saat pelajaran berlangsung.

Namun sepatu yang dilemparkan malah mengenai wajah salah satu siswanya, Agus, 8, hingga terluka. Bahkan terdakwa juga mengakui memberikan uang sebesar Rp 10 ribu agar korban tutup mulut dan tidak melaporkan kepada orang tuanya. Majelis Hakim juga turut mendatangkan barang berupa sepasang sepatu yang dilemparkan terdakwa ke wajah korban sampai mengalami cedera wajah.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Maziyah, mendatangkan orang tua korban dan teman-teman korban yang ada di kelas saat kejadian berlangsung. “Pada sidang kali ini, kami menghadirkan lima orang saksi, 3 saksi masih anak-anak dan 2 orang lainnya dewasa,” ucap Maziyah pasca sidang.

Meski begitu, majelis hakim juga mempersilahkan Penasehat Hukum terdakwa untuk menghadirkan saksi yang meringankan terdakwa, namun tidak ada. Hingga akhirnya sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa hari itu juga.

Pemeriksaan sudah selesai, hakim mempersilahkan JPU untuk mempersiapkan tuntutan. Namun karena tuntutan berjenjang, JPU tidak bisa langsung memberikan hari itu juga. Atas kejadian tersebut, terdakwa akan dijerat dengan UU 80 ayat 1 UUD 2005 dan ayat 13 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara. (han/ida)