AKBP Sugiarto. (DOK)
AKBP Sugiarto. (DOK)

BARUSARI – Tim Reserse Kriminal Polrestabes Semarang terus melakukan penelusuran terkait siapa pihak yang menyediakan rumah di Jalan Merapi No 18 RT 1 RW 1 Kelurahan Gajahmungkur, Kota Semarang, yang dijadikan markas mafia penipuan online sindikat asal Tiongkok dan Taiwan.

Pihak kepolisian mengembangkan penyelidikan, terkait bagaimana 40 hacker asal Tiongkok dan Taiwan itu bisa menetap di sebuah rumah mewah di Kota Semarang. Berdasarkan pengembangan penyelidikan sementara, diduga ada pihak yang membantu menyediakan tempat tersebut. Para WNA tersebut datang ke Semarang melalui Bandara Internasional Ahmad Yani secara bertahap. Kemudian dijemput oleh seseorang menggunakan mobil.

“Sementara ini kami masih sebatas mencari informasi lebih lanjut. Masih kami telusuri, apakah nantinya ditemukan unsur pidana terkait penyedia tempat ini, atau tidak. Kami juga belum bisa bertemu dengan pemilik rumah tersebut,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto, kepada wartawan, Selasa (5/5).

Dijelaskan Sugiarto, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap sejumlah WNA, mereka mengaku tidak mengetahui siapa yang mengatur dan memfasilitasi hingga datang di Kota Semarang. “Mereka mengaku datang ke Indonesia karena ingin bekerja. Penawaran pekerjaan itu dari iklan di website dan koran,” katanya.

Diungkapkan Sugiarto, dalam kasus ini pihaknya menduga ada kerja jaringan secara terputus. Sebab, mereka mengaku tidak mengetahui siapa bosnya. “Mereka hanya mendapat tugas menelopon ke sejumlah nomor dengan cara merayu, lalu meminta mentransfer uang ke sebuah rekening yang telah disiapkan,” terang Sugiarto.

Terkait penyelidikan kasus ini, Sugiarto menjelaskan, bahwa pihaknya telah menyerahkan kepada pihak Interpol Mabes Polri terkait dengan unsur pidananya. Sedangkan terkait apakah ditemukan pelanggaran soal keimigrasian diserahkan ke Imigrasi. “Sementara ini, mereka kami duga sebagai sindikat pelaku penipuan melalui telepon dengan sasaran korbannya warga Taiwan dan Tiongkok,” katanya.

Pelancaran aksi kejahatan tersebut dilakukan dari rumah besar di Jalan Merapi No 18 RT 1 RW 1 Kelurahan Gajahmungkur, Kota Semarang tersebut. “Kami melakukan pengamanan sebagai antisipasi agar Indonesia tidak menjadi sarang bagi para penjahat WNA untuk melancarkan aksi jahatnya,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 Semarang, Alberth S Fenat mengatakan, WNA tersebut rencananya akan dideportasi pada Rabu (6/5) atau Kamis (7/5). Ada 11 orang yang tidak memiliki paspor. “Kami masih menunggu kelengkapan dokumen, berita acara sudah selesai. Setelah itu segera dideportasi,” katanya.

Sebelumnya, sindikat penipuan online internasional tersebut diduga bekerja secara rapi dan profesional. Para pemuda asal negara Tiongkok dan Taiwan itu diduga datang di Indonesia sejak lima bulan lalu secara bertahap. Mereka menggunakan visa kunjungan (wisata) dan On Arrival, sehingga seolah-olah di Indonesia sebagai turis.

Namun sesampai di Indonesia, mereka menetap di sebuah rumah mewah di Kelurahan Gajahmungkur Kota Semarang tersebut. Rumah itu diketahui milik seorang pengusaha di Semarang, bernama Suhartono.

Belum diketahui asal mula bagaimana para mafia online itu bisa mengontrak rumah milik Suhartono. Namun, yang jelas, mereka setiap kali membayar biaya kontrak rumah melalui seorang perantara bernama Pak Mino, seorang satpam di kawasan tersebut.

Hasil pemeriksaan di lokasi, 40 WNA tersebut saat melancarkan aksinya menggunakan media laptop dan jaringan internet. Polisi juga menyita sejumlah laptop, handphone serta handy talky (HT). Mereka memperoleh gaji oleh seseorang yang memerintahkan, kurang lebih Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per-bulan. (amu/zal)