Daerah Penyangga Ditarget Pengembang

161

SEMARANG – Pengembang perumahan rakyat tidak mungkin membangun hunian bersubsidi di Kota Semarang. Tingginya harga tanah di Kota Lunpia tidak memungkinkan bagi pengembang menjual rumah Rp 118 juta per unit sesuai keputusan kementerian perumahan rakyat harga tentang rumah bersubsidi di Jawa Tengah.

Salah satu pengembang perumahan, Andi Kuriniawan mengatakan, harga tanah di Kota Semarang saat ini sudah di atas Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah per meter. Menurutnya, harga tanah untuk perumahan rakyat maksimal Rp 100 ribu per meter. Lebih dari itu pengembang tidak mungkin bisa membangun rumah dengan harga jual Rp 118 juta.

Melihat situasi ini, pihak mengembang saat ini tengah menyasar daerah pinggiran Kota Semarang atau daerah penyangga seperti Kendal, Ungaran, Demak, Boja ataupun Mangkang. “Harga tanah di daerah penyangga tersebut masih cukup terjangkau untuk dibuat perumahan rakyat,” ujarnya.

Terpisah, Team Leader Marketing Bank Artha Graha Cabang Pandanaran, Theodorus Sundah, mengatakan jika fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) banyak diminati oleh masyarakat. Sayangnya, ketersediaan perumahan yang diminati masih belum tersedia FLPP ini pun dirasa ringan lantaran memiliki bunga 7,25 persen selama jangka kredit dan dengan DP 5 persen. “Sejak program ini dijalankan, total ada 12 unit rumah dengan kredit mencapai Rp 1,5 miliar. Masalahnya ketersediaan rumah belum ada, kalaupun ada penyalurannya menyasar daerah pinggiran,” bebernya.

Dirinya menduga, tidak jarang ada rumah FLPP di Semarang lantaran para pengembang terkendala dengan harga tanah ataupun tidak sebanding dengan harga pokok produksi (HPP). Rumah dengan harga Rp 118 juta, dinilai tidak sebanding dengan harga tanah dan bangunan. “Itu yang bikin FLPP jarang ada, selain itu harga material dan bahan bangunan lain pun cukup tinggi,” jelasnya. (den/smu)